Mencapai Gizi Optimal Bagi Generasi Milenial (dan Z)

Jurnalis_Warga    •    Senin, 27 Januari 2020 | 14:27 WIB
Opini
Ilustrasi
Ilustrasi

Telinga kita tentunya akrab dengan kata “Generasi Milenial”, mereka adalah orang yang lahir dari tahun 1980 sampai dengan 1997. Artinya, teman-teman milenial kita telah berumur 23 sampai dengan 40 tahun, usia yang akan sangat berperan di tahun 2030 ketika negara kita mengalami Bonus Demografi.

Bonus demografi merupakan kondisi dimana jumlah kelompok usia produktif (15-64 tahun) jauh melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia <14 tahun dan orang tua berusia >65). Bonus demografi ini seharusnya tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kelompok usia yang tidak produktif dan yang produktif. Rasio ketergantungan Indonesia di tahun 2030 akan mencapai angka terendah, yaitu 44%.

Perbandingan kelompok usia produktif dengan yang tidak produktif akan mencapai lebih dari dua kali lipat (100/44). Singkatnya, selama terjadi bonus demografi tersebut komposisi penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi negara kita. Negara maju seperti Jepang, Kanada, atau negara Skandinavia tak lagi produktif karena kelompok usia produktifnya terus menyusut. Kenapa saya pakai kata seharusnya dalam beberapa kalimat sebelumnya? Iya, hal tersebut menunjukkan sesuatu yang ideal, atau seharusnya terjadi. Kita bukan cenayang yang dapat memprediksi masa depan, tetapi kita masing-masing punya andil dalam mempersiapkan kondisi ideal tersebut.

Salah satu masalah yang sering ditemukan pada “kaum” milenial dan Z adalah masalah gizi. Masalah gizi yang terjadi pada mereka menyerupai dua arah kutup yang berlawanan, dimana satu masalah disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dan masalah lainnya disebabkan oleh asupan gizi yang lebih. Masalah gizi ini sangat memengaruhi produktifitas seseorang sebagai individu maupun sebagai bagian dari suatu sistem. Konsep yang digunakan sebagai acuan gizi kita sekarang adalah “Pesan Umum Gizi Seimbang” yang telah digunakan sejak akhir abad ke 20 untuk menggantikan empat sehat lima sempurna. Prinsip “PUGS” umumnya merupakan prinsip kombinasi makanan, yang telah dipopulerkan sampai sekarang sebagai “Isi Piringku”. 

Zat gizi didapatkan oleh seseorang dari memakan makanan yang mengandung zat gizi makro seperti karbohidrat (pada nasi, roti, gandum, jagung maupun sagu), protein dan lemak yang dapat kita temukan dari hewan maupun tumbuhan. Zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral akan kita dapatkan dari buah-buahan serta sayur-sayuran. Karbohidrat digunakan oleh tubuh untuk proses pembentukkan energi, sedangkan lemak sebagai sumber cadangan energ. Protein dengan zat gizi mikro lainnya digunakan untuk proses pembangunan maupun regenerasi kerusakan sel. Kekurangan dan kelebihan zat gizi ini akan memiliki dampak terhadap tubuh kita. Sebut saja seseorang yang kekurangan makan akan mengalami gizi kurang, sedangkan dia yang kelebihan makan akan mengalami obesitas dan overweight.