ABG Asal Bandung Dipaksa Layani Pria Tiga Hari Tanpa Henti

Tim_Wow    •    Kamis, 30 Januari 2020 | 17:15 WIB
Lokal
Empat ABG asal Bandung saat ini sudah diamankan di Unit PPA Polres Pangkalpinang.(dag/wb)
Empat ABG asal Bandung saat ini sudah diamankan di Unit PPA Polres Pangkalpinang.(dag/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Empat orang wanita asal Bandung, Jawa Barat, korban perdagangan manusia atau trafFicking di lokalisasi Teluk Bayur Pangkalpinang, berhasil diselamatkan Tim Buser Polres Pangkalpinang.

Dari empat orang tersebut, tiga diantaranya masih dibawah umur. Mirisnya, mereka dipaksa melayani puluhan pria hidung setiap hari, bahkan seorang remaja 17 tahun pernah melayani seorang pria selama tiga hari tanpa henti.

Baca Juga: Empat ABG Asal Bandung ‘Dijual’ di Lokalisasi Teluk Bayur

"Sehari ditarget sama mami minimal tiga kali short time dan sekali long time. Pernah tiga hari tiga malam melayani seorang pria dan itu tidak keluar-keluar dari kamar," ungkap salah satu korban berinisial, Dn, Kamis ,(30/1/2020).

Dn mengaku, selama empat bulan di lokalisasi tersebut, dirinya tidak pernah absen sekalipun melayani para pria hidung belang. Ia terpaksa melakukannya, karena akan didenda jika menolak ajakan short time maupun long time.

"Mau tidak mau harus ngelakuin itu, kalau menolak kita didenda dan tambah utang lagi. Gak tahu utang apa, pas datang ke sini sudah ada hutang Rp 4 juta dan sekarang tinggal Rp1,8 juta. Itu harus dilunasi selama empat bulan, kalau tidak kontak kita tidak bisa keluar dari tempat itu," tuturnya.

Hal serupa juga diakui Nr (19), dirinya terbilang paling paling lama berada di lokasi Teluk Bayur yakni lima bulan, dibandingkan tiga rekannya yang masih dibawah umur.

Menurut Nr, datang ke Bangka di iming-iming bekerja di sebuah kafe dengan gaji cukup besar, tanpa pikir panjang dirinya langsung terbang ke Pangkalpinang, dan setiba di lokalisasi langsung disodori tandatangan kontrak yang tidak ia mengerti.

"Ditawari sama teman, katanya di Bangka itu enak, banyak pengusaha timah, pokoknya saya akan dapat uang banyak, ternyata kerjanya seperti ini. Mana saya tidak punya keluarga di sini," kata Nr.

"Saya waktu tiba itu sudah ada hutang Rp 3,8 juta, ternyata itu utang dari biaya tiket, perlengkapan di kamar seperti kasur, seprai, kipas angin, sewa kamar, listrik dan sebagainya," ungkapnya.

Nr mengaku, selama bekerja di warung esek - esek tersebut, mereka hanya mendapat bayaran setengah dari jasa servis melayani para pria hidung belang, sisanya diambil sama mami.

"Kalau longtime (nginep) dibayar Rp 500 ribu, tapi dipotong yang punya kafe Rp 320 ribu dan Rp 180 ribu dikasih sama kita. Kalau short time Rp 300 ribu dan dipotong Rp150 ribu oleh yang punya kafe. Kalau hanya nemani tamu karaoke dan minum tidak dapat apa- apa, kecuali duit tip dikasih sama tamu, itu pun kalau kita tidak pandai - pandai, dipotong lagi sama yang punya kafe," jelasnya.

An, remaja yang masih 15 tahun lebih parah. Tiba di Bangka, dia sudah punya hutang Rp 11 juta.

"Saya dibawain teman ketempat itu, hutang saja sudah Rp 4 juta pas baru tiba, ditambah hutang teman saya yang kabur, jadi saya dipaksa nombok yang punya teman, jadi Rp 11 juta," tukasnya.(dag/wb)

Halaman