Tantangan Berat Calon Perseorangan di Pilkada Babel (2)

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 12 Maret 2020 | 10:53 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh :La Ode Muhamad Muliawan (Staf Pengajar Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung)

Kehadiran calon independen sebagai koreksi atas kegagalan parpol dalam menyediakan kader yang kualifikasi yang baik bukan tanpa kendala. Setidaknya terdapat dua tantangan besar yang harus dihadapi calon perseorangan.

Pertama, proses pencalonan mensyaratkan dukungan yang besar masyarakat yang dibuktikan dengan fotocopy kartu tanda penduduk. Ditahap ini calon kepala daerah lewat jalur perorangan membutuhkan tidak saja sumber daya finansial yang besar tapi sekaligus membutuhkan legitimasi dari masyarakat untuk mempermudah mobilisasi pengumpulan KTP sebagai syarat pencalonan.

Kedua, pada tahap pemilihan calon perseorangan yang berhasil lolos sebagai peserta pemilihan kepala daerah memiliki tantangan yang jauh lebih serius terlebih ketika berhadapan dengan kandidat yang didukung oleh partai politik. Calon perorangan tidak didukung oleh mesin politik sebagaimana yang dimiliki oleh partai politik yang bahkan menjangkau sampai ketingkat desa dan kelurahan sehingga sulit untuk memenangkan pertarungan.

Calon Perseorangan di Babel Mungkinkah?

Fenomena calon perseorangan bukan hal baru di Bangka Belitung tercatat sejak tahun 2018 di Kota Pangkalpinang, pasangan Rinaldi-Sarjulianto mengikuti pertarungan electoral untuk memperebutkan kursi nomor satu di kota tersebut lewat jalur independen. 

Akan tetapi gagal setelah hanya memperoleh suara tebanyak ketiga dibawah Maulana Akil-Sopian dan Udin-Edison (Ranto, Antaranews, 22 januari 2020). Pada pilkada serentak yang akan di gelar di 4 kabupaten di Provinsi Bangka Belitung tahun ini setidaknya muncul dua kandidat yang di akan maju lewat jalur perseorangan yakni Rieza Frimansyah-Medi Hestri untuk pilkada Bangka Barat dan Kodi-Rusliadi untuk pilkada Bangka Selatan.

Akan tetapi, peluang untuk memenangkan pemilihan bagi calon perseorangan jika memang memenuhi persyaratan untuk menjadi peserta Pilkada di dua daerah tersebut jauh lebih kecil di banding daerah lain di Indonesia. Selain tidak tersedianya mesin politik yang cukup untuk menggalang dukungan pemilih sehingga sulit untuk menandingi kandindat yang di usung oleh partai politik dengan jaringan yang telah mengakar sampai ketingkat kelurahan dan desa.

Kehidaran calon perseorangan dalam Pilkada di Babel justru tidak lahir sebagai wujud perlawanan terhadap kegagalan parpol dalam fungsi kaderisasi dan rekrutmen politik yang menjadi prasarat paling utama kelahirannya terutama ketika melihat sangat minimnya kontrol masyarakat terhadap kinerja pemerintahan yang memang didominasi oleh kader parpol. 

Untuk itu kandidat dari jalur perseorangan dalam pilkada di Bangka Belitung harus bekerja ekstra keras untuk mampu memenangkan hati pemilih dalam mengalahkan figur yang diusung oleh partai politik jika tidak ingin berakhir sebagai penghibur semata dalam perhelatan electoral lima tahunan ini.(*)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE