Johan Aping Tegaskan Yayasan Sentosa Meniadakan Ibadah Cheng Beng untuk Tahun Ini

Dwi H Putra    •    Kamis, 26 Maret 2020 | 14:37 WIB
Lokal
Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan.(dwi/wb)
Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan.(dwi/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Pengurus Yayasan Perkuburan Sentosa menegaskan meniadakan sembahyang kubur atau Cheng Beng yang puncaknya jatuh pada 4 April 2020. Hal ini sebagai salah satu upaya antisipasi pencegahan dan penyebaran Covid-19.

"Yayasan Sentosa yakni yayasan perkuburan yang dibentuk untuk melakukan ritual adat perkuburan, terkait situasi terkini berkembangnya pandemi Covid-19, maka kami meniadakan Cheng Beng untuk tahun ini," kata Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan atau Aping ketika pers conference di Puskodal TRC Penanganan Covid-19, Kamis (26/3/2020).

"Kami imbau untuk beribadah dari rumah saja, tidak harus ke kubur, intinya tetap mendo'akan leluhur masing-masing," ujarnya.

Dijelaskan Aping, beberapa waktu sebelumnya Jumat (20/3/2020) Yayasan Perkuburan Sentosa dapat imbauan khusus acara Cheng Beng dari pemerintah daerah, hal itu pun sudah disosialisasikan kepada anggota yayasan untuk diteruskan ke masyarakat lainnya.

"Saya hampir jadi tukang ngubur orang, karena petugasnya takut dikira yang meninggal itu Covid-19, sangking takutnya, ini lah dampak sosialiasi kami ke masyarakat," jelas Aping.

"Penjajah belum datang kita sudah terjajah, mesti lebih bijak, saya sampaikan bahwa tidak semua meninggal karena Covid-19, sebab kalau nggak ada bagian penguburan bahaya juga," paparnya.

Menurutnya, Yayasan Perkuburan Sentosa pun guna mendukung antisipasi pencegahan penyebaran Covid-19 berkaitan dengan Cheng Beng sudah memasang spanduk di empat titik pintu masuk, depan dan belakang berisikan tidak melakukan ritual Cheng Beng dan dilakukan di rumah masing-masing.

"Kami tidak memiliki data valid terkait jumlah warga yang pulang, tapi mereka yang dari luar Indonesia sudah menyatakan tidak pulang untuk Cheng Beng," terang Aping

"Tapi jika menolak keluarga datang kan nggak enak diusir, tapi diminta ke puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya," tandasnya.

Ditambahkan Aping, Cheng Beng merupakan ritual dari zaman tembok China dibangun, banyak terjadi malapetaka waktu itu, yakni penyakit. Sehingga para tokoh adat sehingga dibikin ritual Cheng Beng atau ritual tolak bala, yang perjalanannya sejak ribuan tahun lalu.

"Kala itu semua warga diwajibkan membangun tembok China, begitu mati dikubur di tembok China, itulah ritual Cheng Beng awalnya dilaksanakan warga keturunan Tionghoa hingga saat ini," tukas Aping.

"Kalau presepsi apakah ibadah di rumah atau kubur tingkatannya afdol mana, saya tidak tahu, pastinya kami mengimbau silakan beribadah di rumah saja tetap mendo'akan leluhurnya," tukasnya.(dwi/wb)

Halaman