Bandara Depati Amir Tidak Dibuka untuk Penerbangan Reguler Secara Umum

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Babel, KA Tajuddin.(dok)
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Babel, KA Tajuddin.(dok)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Informasi dibukanya jalur penerbangan dan pelabuhan akhir-akhir ini, benar-benar harus dipahami masyarakat umum.

Pasalnya, beroperasi nya bandara dan pelabuhan dilaksanakan untuk kepentingan khusus dan tertentu saja.

Seperti diungkapkan GM Angkasa Pura II Pangkalpinang, Muhamad Syahril, penerbangan yang diberlakukan berdasarkan Surat Edaran (SE) Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020, tidak terbuka untuk masyarakat umum.

"Pembukaan ini terkait penanganan Covid-19, terkhusus lagi ada keadaaan darurat seperti ada keluarga inti yang sakit atau meninggal saja, jadi bukan penerbangan reguler seperti biasanya," kata Muhamad Syahril usai mengikuti rapat teknis pelaksanaan penerbangan di Posko Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) GTPPC-19 Babel, Sabtu (9/5/2020).

"Seperti yang diketahui, ada berbagai persyaratan yang ditetapkan oleh GTPPC-19 Nasional," ujarnya.

Di Bandara Depati Amir hingga saat ini baru satu maskapai yang bakal melakukan penerbangan yakni Garuda, sedangkan maskapai lainnya masih menunggu keputusan dari pusat.

"Kalau untuk kargo masih seperti biasa, sesuai jadwal yang ditentukan selama ini," jelas Muhamad Syahril.

Lanjutnya, untuk pengawasan dan pengetatan warga atau mereka yang ingin menggunakan jasa penerbangan lebih ditingkatkan oleh berbagai instansi yang tergabung dalam GTPPC-19 Babel, dengan mendirikan posko khusus di bandara.

"Tim sudah terbentuk dipimpin Danlanud, dengan anggota dari berbagai instansi. Intinya semua lebih diperketat lagi, untuk pengawasannya," tandas Muhamad Syahril.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Babel, Tajuddin, mengatakan terkait hal ini pihaknya sudah menugaskan staf untuk bergabung dalam tim pengawasan.

"Intinya semakin diperketat lagi pengawasannya, setiap mereka yang datang atau berangkat harus jelas kepentingannya, tidak sembarangan," jelas Tajuddin.

"Contohnya ada keluarga sakit, harus jelas keterkaitannya apakah anak, istri, suami, orangtua dengan ditunjukkan identitas diri serta surat keterangan dari pihak kesehatan, kalau benar-benar sakit," pungkasnya. (dwi/wb)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL