Psikolog: Anak yang Terlibat Prostitusi Jangan Dikucilkan

Caption: Wahyu Kurniawan. (IST)
Caption: Wahyu Kurniawan. (IST)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com, -- Ditemukannya dugaan prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur turut menyedot perhatian publik. 

Psikolog sekaligus dosen prodi psikologi di IAIN SAS Babel, Wahyu Kurniawan, M. Psi mengatakan, prostitusi di bawah umur bukan hal baru di Indonesia. Tetapi sangat  disayangkan ini terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Prostitusi yang melibatkan usia anak dalam beberapa daerah dikenal juga dengan kimcil, ciblek, warior dan rendan, namun di Babel tidak ada istilah khusus. Terlepas apapun, prostitusi anak dalam defenisinya adalah suatu aktifitas hubungan seksualitas dengan yang melibatkan usia di bawah 19 tahun dan tentu melanggar konstitusi. 

Banyak riset yang menjelaskan mengapa anak anak memilih terjebak pada prostitusi antara lain, anak terjebak pada suatu masalah yang membekas pada dirinya yang membuat konsep dirinya lemah. 

"Misalkan korban pelecehan seksual, pernah mendapatkan perlakuan seks yang dikenalkan dan terbuang. Sehingga anak terlanjur  menganggap dirinya lemah dan hina, berikutnya adalah kebiasan perilaku seks yang menyimpang yang menjadikan anak terbiasa mengikutinya maaf misalnya ada hasrat yang didapatkan," jelasnya.

Selain itu, gaya hidup juga menjadi faktor lainnya. Misalkan saja  anak terdesak melakukan hal ini terbius oleh citra-citra tertentu misalkan untuk mendapatkan barang mewah dengan cara instan. 

"Ada juga faktor lainnya adalah jika ingin masuk dalam genk tertentu anak harus hilang keperawanannya maka ini akhirnya menjadi salah satu cara yang digunakan anak dan akhirnya anak menjadi terbiasa," jelasnya. 

Dulu ada juga pengaruh budaya di kawasan tertentu, anak yang menikah muda menjadi tanda bahwa anak tersebut laku tanpa melihat dampak apapun. Hal lain bisa jadi, anak ini dibesarkan tanpa sosok utama keluarga, sehingga anak tidak punya contoh.

"Namun, biasanya prostitusi online ini ada semacam jaringan jaringan yang mengikat. contoh di beberapa tempat anak dikasih hidup yang layak namun hidupnya dihitung dengan hutang dan hutang ini harus dilunaskan," tambahnya. 

Wahyu menjelaskan, untuk pemulihan butuh waktu lama karena harus mengubah keyakinan diri anak untuk merubah cara pandangnya. 

"Bahwa dia adalah anak-anak dan saatnya masih ikut keluarga  dan belajar. Mengembalikan anak ini pada aktifitas yang umum tanpa diskriminasi dan tanpa adanya label-label gelap pada anak," ujarnya. 

Hal lainnya juga perlu mendesain lingkungan agar menerima anak tersebut dan jangan menjadikan anak ini sumber masalah melainkan boleh jadi  akibat dari masalah.

"Perlu juga mendapatkan family  suport agar anak merasa ada keluarga yang menerima. Disisi lain perlu peran semua dari RT/RW, perangkat sekitar untuk aktif memonitoring. Bimbingan keagamaan untuk membangun pondasi yang kuat baik agama dan konsep diri anak," tutupnya. (wb)




MEDSOS WOWBABEL