Incumbent Diujung Tanduk (Bagian 1)

Ranto dalam acara Wow Speak Up di kantor wowbabel Pangkalpinang, Kamis (23/7/2020) malam. (Muri/wowbabel)
Ranto dalam acara Wow Speak Up di kantor wowbabel Pangkalpinang, Kamis (23/7/2020) malam. (Muri/wowbabel)

PILKADA Serentak 2020 di depan mata. Beragam daya dan upaya manuver politik sudah mulai dilakukan dalam kurun waktu setahun terakhir. Bahkan, ketika dipastikan pilkada serentak akan dilaksanakan pada desember 2020, intensitas dan mobilitas kandidat yang akan ikut berkompetisi dalam sirkulasi kepemimpinan daerah mulai bergeliat dan cukup riuh hadir mewarnai aktifitas keseharian masyarakat. Lihatlah disepanjang jalan di daerah-daerah yang akan melaksanakan pilkada bermunculan baliho, spandok, akun-akun media sosial dan alat sosialisasi lainya bertebaran dimana-mana. Beraneka kegiatan bakti social melalui bantuan social  dan sebagainya juga ditempuh oleh politisi berstatus incumbent maupun mitranya dalam kompetisi politik di bulan desember mendatang. Menariknya, incumbent yang akan ikut dalam konstelasi politik di daerah juga masih berhasrat untuk tampil kembali mencoba peruntungan dalam menduduki jabatan politik di daerahnya.

Pertanyaannya, mampukah incumbent mempertahankan tahta kekuasaannya? Diskusi singkat kali ini akan membahas kecenderungan sekaligus tren keberhasilan dan kegagalan incumbent dalam memenangkan dukungan kembali dari kalangan pemilih. Persoalan mengenai tingkat kepuasan dan ketidakpuassan masyarakat terhadap kinerja incumbent selama menjabat merupakan indikator paling utama yang mendapat sorotan dalam tema kali ini. Berikutnya, kemungkinan untuk mendukung atau tidak mendukung kembali kandidat yang bestatus petahana pada periode berikutnya juga menjadi paramater lainnya untuk menjawab pertanyaan yang digelisahkan tadi.


Incumbent dalam Patahan Sejarah Konstelasi Politik di Babel

Sebelum menjelaskan kemungkinan peluang dan tantangan incumbent dalam pilkada 2020 nanti—khususnya di wilayah Bangka Belitung—perlu kiranya didiskusikan fenomena incumbent dalam beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan pengalaman Pilkada di gelombang pertama, yakni tahun 2005-2006, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dalam kajian bulanannya di Bulan Edisi 2 Tahun 2007 mencatat angka incumbent yang mencalonkan kembali pada periode tersebut sejumlah 78,8% (atau 230 daerah) dari total yang melaksanakan pilkada sebanyak 292 daerah. Sedangkan yang tidak mencalonkan kembali terdiri dari 62 daerah (21,2%).

Masih diperiode yang sama, LSI juga memberikan informasi bahwa 62,17% incumbent yang bertarung kembali berhasil memenangkan kompetisi politik tersebut. Lalu bagaimana dengan kondisi terkini? Apakah masih mengikuti pola yang sama—yakni petahana lebih dominan berhasil dibanding kegagalan dalam mempertahankan kekuasaannya, atau malah sebaliknya.

Pengalaman dari wilayah Bangka Belitung—dalam kurun waktu dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2018—incumbent yang mencalonkan kembali begitu banyak yang berguguran. Pengalaman di Bangka, Bangka Barat, Bangka Selatan, Belitung Timur misalnya, belum pernah ada kandidat bupati berstatus incumbent berhasil mempertahankan jabatannya untuk periode selanjutnya. (bersambung..)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL