Incumbent Diujung Tanduk (Bagian 3)

Ranto dalam acara Wow Speak Up di kantor wowbabel Pangkalpinang, Kamis (23/7/2020) malam. (Muri/wowbabel)
Ranto dalam acara Wow Speak Up di kantor wowbabel Pangkalpinang, Kamis (23/7/2020) malam. (Muri/wowbabel)


Mewabahnya virus Corona membawa efek negatif bagi pendapatan rumah tangga responden. Mayoritas responden mengaku pendapatannya dalam kurun waktu 3 bulan terakhir mengalami penurunan yang dramatis.Fakta ini sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi pejabat di masing-masing daerah, terutama bupati dan gubernur. Barangkali indikator ini bisa juga digunakan untuk menjelaskan mengapa patahana pada pilkada musim kali ini kehilangan pesonanya di hadapan publik. Bahkan, pilkada 2020 merupakan ujian terberat bagi incumbent untuk memenangkan kembali kompetisi politik yang akan berlangsung pada akhir tahun 2020.

Incumbent Terancam Kehilangan Pendukung Lamanya

Tidak saja bagi daerah yang sedang bersiap menyelenggarakan pilkada 2020, dalam tataran hirarki pemerintahan yang lebih tinggi seperti Gubernur juga mendapatkan efek yang kurang baik dari fenomena COVID-19. Seandainya pemilihan gubernur Babel dilaksanakan hari ini—pertanyaan ini diajukan saat penelitian lapangan dilakukan—maka mayoritas responden yang di wawancarai menginginkan sosok gubenur yang baru—bukan incumbent saat ini—sangat tinggi seperti yang tergambara dalam grafik 3 berikut.


Menurut informasi dari grafik 3, masyarakat yang masih berharap dan menginginkan kembali Erzaldi untuk memimpin Babel pada periode yang akan datang lebih rendah dibandingkan dengan respon publik yang memiliki hasrat untuk menginginkan figur baru untuk menjadi gubernur pada masa mendatang. Di Bangka Barat misalnya, masyarakat yang masih bertahan dan yakin pada kepemimpinan Erzaldi hanya 15,9%, sedangkan yang menginginkan sosok gubernur sebanyak 34.3%. Berikutnya, di Bangka Tengah—merupakah “rumah” Erzaldi—yang bertahan dengan kepemimpinan Erzaldi sejumlah 25.8%, dan terdiri dari 34% meninginkan gubernur yang baru. Terakhir, di Bangka Selatan, publik yang masih berniat untuk di pimpin oleh Erzaldi hanya 16,1% dibangikan dengan harapan publik untuk dipimpin oleh sosok baru untuk jabatan gubernur di periode selanjutnya sejumlah 37.3%.

Apa yang menarik dari temuan ini? Jika dilihat dari basis pendukung pasangan gubernur terpilih hasil pilkada tahun 2017 yang lalu—yakni pasangan Erzaldi-Abdul Fatah (BERKAH)—Erzaldi terancam kehilangan pendukungnya cukup banyak di beberapa kabupaten yang pernah dimenangkannya. Di Bangka Barat, perolehan suara BERKAH sebanyak 43,5% pada waktu itu. Sementara yang masih menginginkan Erzaldi kembali memimpin hanya 15,9% untuk kondisi saat ini. Artinya ada selisih sebanyak 27,6% dukungan terhadap Erzaldi di masa mendatang akan menghilang. 

Berikutnya, di Bangka Selatan, dukungan terhadap BERKAH sejumlah 40,3%. Sedangkan yang masih berhasrat untuk dipimpin kembali oleh Erzaldi di masa mendatang hanya 16.1%. di Bumi Junjung Besaoh ini Erzaldi berpotensi kehilangan dukungan publik sebanyak 24,2% untuk pencalonannya di periode mendatang.

Lalu bagaimana dengan publik di Kabupaten Bangka Tengah? Apakah mengikuti kecenderungan yang sama dengan Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Bangka Selatan? Sekedar mengingat kembali, Pilkada Gubernur tahun 2017 yang lalu pasangan BERKAH mendapat dukungan 55.1%--ini merupakan dukungan tertinggi yang diperoleh jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya pada waktu itu. Sedangkan kondisi saat ini, publik yang masih menginginkan Erzaldi untuk menjabat sebagai gubernur pada periode berikutnya sejumlah 25.8%. Sementara yang menginginkan sosok gubernur yang baru terdiri dari 34%. Dari keterangan tadi, Erzaldi hanya kehilangan dukungan sejumlah 8,2%. Meski potensi kehilangan dukungan cukup kecil di bandingkan dengan Bangka Barat dan Bangka Selatan, ada satu pola yang sama yakni: dukungan terhadap kepemimpinan Erzaldi di masa mendatang mengalami tren penurunan. (***)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL