Aroma Rivalitas Justiar-Jamro di Pilkada Basel 2020

Tim_Wow    •    Kamis, 13 Agustus 2020 | 12:13 WIB
Pilkada
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh Albana (Wartawan Senior di Babel)


SETERU politik dua tokoh penting Bangka Selatan  (Basel) belum berakhir. Lebih dari satu dasawarsa masih tercium aroma rivalitas kedua penguasa Basel itu. Panggung pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 menunjukkan rivalitas itu.

Pilkada langsung akan segera memasuki putaran keempat, pertarungan Justiar-Jamro terus berlanjut. Bukan lagi keduanya saling hadap-hadapan, tapi melalui generasi kedua dan isteri.

Diperiode pertama, Justiar-Jamro seiring sejalan. Keduanya mencatatkan diri sebagai bupati dan wakil bupati pertama dengan sistem dipilih langsung oleh rakyat tahun 2005. Duet Justiar-Jamro hanya berlangsung singkat. Belum rampung lima tahun, sudah tak seiring sejalan. Pilkada 2010, Jamro menjadi penantang dan mengalahkan Justiar.

 Justiar harus menunggu lima tahun untuk kembali ke kursi kekuasaan. Lagi-lagi dia berhadapan dengan koleganya itu yang berstatus petahana di 2015.  Justiar berhasil melakukan revans, dia menembus kekalahan dan membalikkan skor unggul 2-1 dari Jamro.

Sejak awal sudah banyak pihak menduga, pasca menjabat kedua kali sebagai Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer tidak akan legowo meninggalkan Basel yang telah dibangunnya. Pekerjaan rumah mewujudkan Basel  yang sejahtera baru pada meletakkan pondasi yang kokoh. Masih ada pekerjaan berat lagi yang berkelanjutan. Apa daya, aturan telah membatasinya.

Tahap kontruksi mewujudkan cita-cita itu harus ada penerus. Siapa lagi kalau bukan yang ada dalam satu lingkaran dengan visi yang sama. Sumber daya yang seperti itu lebih memberikan jaminan jika bagi sebuah keberlanjutan.

Justiar tak bersedia, jika keberlanjutan itu berhenti manakala dia kemudian digagalkan oleh Jamro pada periode 2010-2015.  Sejarah itu tak mau berulang lagi, penerus kepemimpinan Basel harus yang sama visi.  Nama “Putra Mahkota” tunggal Aditia Rizki Pratama yang sudah terjun ke dunia politik setelah menimbang dan menimang matang untuk didorong mewariskan kepemimpinan.  Aditia memang dipersiapkan Justiar melanjutkan jejaknya.

Demikian pula dengan Jamro.  Ambisi untuk kembali bertahta belum punah. Apalagi pernah duduk sebagai  wakil bupati dan bupati.  Pasca kalah  pada Pilkada 2015 tak membuat hilang  ambisi itu. Jamro tak berdiam diri. Ruang kosong regenarasi kepemiminan yang ditinggalkan partai politikpun dimanfaatkan. Untuk tampil kembali  dia terjegal aturan jika mantan napi korupsi tak bisa mencalonkan. Tak ada rotan akarpun jadi, maka sang istri Debi Vita Dewi didorong untuk calon wakil bupati.

Jamro dan Justiar yang sama-sama tak bisa lagi untuk berada di atas panggung mengutus keluarga untuk bertarung. Kondisi politik di daerah pun memungkinkan. Oligarkhi di partai politik hari ini membuat rekrutmen calon pemimpin tak jauh dari hubungan darah. Tak heran jika wajah anak, istri, mantu mewarnai  Pilkada.  Sirkulasi kekuasaannyapun dari suami ganti posisi ke isteri lalu turun ke anak jamak terjadi.

Termasuk pilkada 2020, wajah itu mulai tampak di Basel. Rivalitas poitik Justiar-Jamro ternyata berlanjut, bahkan berpotensi menjadi warisan  turun-temurun. (*)




MEDSOS WOWBABEL