Tak Mampu Beli HP, Rafika Harus Menumpang Demi Bisa Belajar Online

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 25 September 2020 | 09:32 WIB
Opini
Rafika sedang belajar dibimbing oleh sang ibu Rosiana. (Marini/smanser)
Rafika sedang belajar dibimbing oleh sang ibu Rosiana. (Marini/smanser)

MENGENAKAN pakaian bergambar karakter LOL berwarna pink, seorang bocah perempuan tampak serius membaca buku dari ruang tengah rumahnya. Terbata-bata ia mengeja huruf demi huruf agar bisa dirangkai menjadi satu kalimat utuh. Rumah semi permanen berlantai tanah seakan menjadi saksi bisu perjuangan sang bocah menuntut ilmu.

Tidak ada hiasan yang menempel di dinding papan rumah, hanya satu foto usang pernikahan kedua orang tua yang menempel, entah kapan dipasang tepat diatas kursi kayu rumah keluarga kecil ini.

Rafika, nama bocah berusia 6 tahun itu, putri dari pasangan Armin dan Rosiana. Kedua orang tuanya hanya tamatan SD. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dibantu sang ibu yang merangkap sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru bagi Rafika. Dengan seksama Rafika memperhatikan sang ibu Rosiana mengajarinya memperkenalkan huruf dan melafalkannya dengan tepat.

Pandemi Covid-19, membuat puluhan juta anak di Indonesia terpaksa harus bersekolah dari rumah dengan sistem daring (dalam jaringan). Peralatan seperti handphone merupakan barang wajib agar bisa mengikuti pelajaran daring dengan baik. Sayang, hal itu tidak terjadi pada Rafika. Jangankan memiliki handphone, melihat barang mewah menurut keluarga ini saja semenjak belajar daring dilakukan.

“Ayahnya dulu sempat punya handphone, tapi rusak. Wajarlah, handphone jadul. Habis itu, buat beli pulsa gak bisa, mending buat makan,” ungkap sang ibu Rosiana.

Setelah belajar membaca yang dibimbing sang ibu, Rafika beranjak dari duduknya kemudian mengambil tas punggung kesayangannya bergambar putri salju pemberian sang ayah sebagai kado saat Rafika berusia 5 tahun. Rafika kemudian bergegas ke rumah temannya bernama Pipit.



MEDSOS WOWBABEL