Pemimpin Zaman Now dan Kepemimpinan Kaum Muda

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 13 Oktober 2020 | 10:44 WIB
Opini
Rusmin (Penulis buku yang tinggal di Toboali).(ist)
Rusmin (Penulis buku yang tinggal di Toboali).(ist)

Oleh: Rusmin (Penulis asal Toboali,  Bangka Selatan)


Pilkada Serentak 2020 ini, tampaknya memberi ruang demokrasi secara terbuka kepada para kaum muda, kaum millenial untuk ikut berkompetisi dalam kontestasi pesta demokrasi lima tahunan ini sebagai pemimpin daerah. Apakah di daerah kabupaten sebagai Bupati/Wakil Bupati, di Kotamadya sebagai Walikota atau Wakil Walikota atau di level Provinsi sebagai Gubernur/Wakil Gubernur.

Apalagi kiprah anak-anak muda di dunia politik mendapatkan dukungan langsung oleh Mahakamah Konstitusi (MK) melalui Pasal 7 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 10 tahun 2016 tentang batas usia pencalonan kepada daerah khususnya Walikota dan Wakil Walikota serta Bupati dan Wakil Bupati minimal berusia 25 tahun.

Kehadiran anak-anak muda, kaum millenial selalu membawa harapan baru bagi penyegaran dan terwujudnya perbaikan kualitas politik dan progresifitas ekonomi. Karena itu, anak muda agar tidak diposisikan menjadi pelengkap dan dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan status quo. 

Diminta atau tidak diminta, belajar dari sejarah, sebagai sebuah kekuatan politik yang nyata, anak muda, kaum millenial sebenarnya akan selalu terlibat dan berpartisipasi. Bahkan, jika perlu mengoreksi, dalam situasi-situasi politik yang krusial bagi bangsa.

Apalagi secara demografi, jumlah anak muda di Indonesia saat ini cukup besar. Sebesar 40 persen pemilih pada Pemilu 2019 lalu, diperkirakan berasal dari kategori pemilih muda. Besarnya jumlah anak muda ini membawa harapan semakin baik dan responsifnya kualitas tata kelola pemerintahan dan kesejahteraan sosial ekonomi Indonesia.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE