Sumpah Pemuda dan Krisis Moral Generasi Millenial

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 27 Oktober 2020 | 15:19 WIB
Opini
Hafiza Gafikru, Mahasiswa FH Universitas Bangka Belitung.(ist)
Hafiza Gafikru, Mahasiswa FH Universitas Bangka Belitung.(ist)

Oleh : Hafiza Gafikru, Mahasiswa FH Universitas Bangka Belitung 


Pada tahun 1928, tepatnya pada tanggal 28 oktober terjadi peristiwa penting yang menjadi tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, mendeklarasikan persatuan melalui sebuah ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan yang dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. 

Sumpah Pemuda ini lahir, melalui Kongres Pemuda ke-2 pada tanggal 27 dan 28 oktober di Batavia yang sekarang dikenal dengan Jakarta. Pada kongres ini diikuti oleh lebih banyak peserta dari kongres pertama, yaitu dihadiri oleh 750 orang dari masing masing perwakilan organisasi PPPI ( Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia ), Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya.

Makna yang terkandung dari peristiwa bersejarah ini adalah mengajarkan terkait nilai-nilai persatuan bangsa. Semangat membara para pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda saat itu dinilai berpengaruh dapat menambah energi positif untuk generasi penerusnya. Sebagai pemuda intelektual, Sumpah Pemuda ini seharusnya bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk membawa negara ini ke arah perubahan yang lebih baik, bukan justru membuat menjadi hilangnya harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, era millenial yang semakin modern dan semakin luas ini menyebabkan pengaruh besar terhadap masyarakat, khususnya anak muda. Salah satu faktor yang mempengaruhi anak muda saat ini adalah pengaruh teknologi yang kian canggih, hal ini merupakan tantangan bagi generasi muda, yang dahulunya tantangan bagi para pemuda bersifat kolonialisme kini beranjak menjadi kompetisi global. Kini pemuda tidak harus lagi perang melawan para penjajah menggunakan bambu runcing ataupun senjata mesin melainkan mereka harus mampu melawan hawa nafsunya untuk menghadapi cepatnya arus perkembangan zaman.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL