Maraknya Pernikahan Dini Mengancam Bonus Demografi Indonesia

Jurnalis_Warga    •    Kamis, 05 November 2020 | 16:22 WIB
Opini
Siti Putri Dini (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung).(ist)
Siti Putri Dini (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung).(ist)

Oleh: Siti Putri Dini (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung)


Di tengah pandemi Covid-19, resepsi pernikahan tidak ada halangan bagi sepasang mempelai untuk melaksanakan. Banyaknya sepasang mempelai melakukan acara akad pernikahan, akan tetapi harus memenuhi persyaratan fasilitas protokol kesehatan untuk pencegah dan menanggulangi penyebaran Covid-19 . 

Mengenai dengan pernikahan di tengah pandemi, sekarang meningkatnya pengajuan nikah muda atau nikah di bawah umur. Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dimana usia pasangan tersebut masih di bawah umur atau belum cukup umur. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah telah melakukan revisi terhadap Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 terkait dengan batasan minimal usia pernikahan menjadi 19 tahun. 

Dalam catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, terdapat kurang lebih 34.000 permohonan dispensasi yang diajukan pada Januari hingga Juni 2020. Sebanyak 97% permohonan dikabulkan dan 60% yang mengajukan dispensasi pernikahan adalah anak dibawah 18 tahun. Dari Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan angka pernikahan dini atau perkawinan anak pada usia dini meningkat menjadi kurang lebih 24 ribu saat pandemi. 

Berdasarkan data UNFPA ( United Nations Population Fund ), sebanyak 33.000 anak perempuan di bawah usia 18 tahun akan dipaksa menikah di seluruh dunia yang biasanya dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Di Indonesia sendiri, satu dari sembilan anak perempuan berusia 20-24 tahun sudah menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Sekarang ada kurang lebih 1,2 juta kasus perkawinan anak yang menempatkan Indonesia di urutan ke-8 di dunia dari segi angka perkawinan anak secara global.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL