Eksistensi Rape Culture di Era Milenial

Nadine Febiola, Mahasiswa Fakultas Hukum UBB.(ist)
Nadine Febiola, Mahasiswa Fakultas Hukum UBB.(ist)

Oleh : Nadine Febiola, Mahasiswa Fakultas Hukum UBB


Istilah "budaya pemerkosaan" pertama kali diciptakan pada tahun 1970-an di Amerika Serikat oleh feminis gelombang kedua dan diterapkan pada budaya Amerika kontemporer secara keseluruhan. Selama tahun 1970-an, feminis gelombang kedua mulai terlibat dalam upaya peningkatan kesadaran yang dirancang untuk mendidik publik tentang prevalensi pemerkosaan. Sebelumnya, menurut profesor psikologi Canada Alexandra Rutherford , kebanyakan orang Amerika berasumsi bahwa pemerkosaan, inses, dan pemukulan istri jarang terjadi. 

Konsep budaya pemerkosaan menyatakan bahwa pemerkosaan adalah hal yang biasa dan normal dalam budaya Amerika, dan itu adalah manifestasi ekstrim dari misogini sosial dan seksisme yang meluas. Pemerkosaan didefinisikan ulang sebagai kejahatan kekerasan daripada kejahatan seks dan motifnya didefinisikan ulang dari hasrat untuk kenikmatan seksual menjadi dominasi laki-laki, intimidasi dan rasa kendali atas norma-norma gender.  Pemerkosaan juga mulai dikaji ulang dari sudut pandang korban, bukan pelaku.Rape culture atau budaya pemerkosaan adalah budidaya nilai-nilai patriarki dan menjadi norma di sebagian besar tempat selama puluhan tahun.

Bagaiamana budaya pemerkosaan terlihat dalam budaya kita? Kita dapat mengenali budaya ini, misalkan melalui, diantaranya:

1. Membenarkan kekerasan seksual atau kekerasan berbasis gender lainnya; 

3. Memperhatikan pakaian, keadaan mental, motif, dan sejarah korban secara terbuka; 

5. Mendefinisikan “kejantanan” sebagai dominan dan agresif secara seksual, sedangkan “keperempuanan” sebagai penurut dan pasif secara seksual, atau 

7. Hentikan menyalahkan korban. Kita memiliki kekuatan untuk memilih meninggalkan bahasa misoginis dan lirik lagu yang menyalahkan korban, menjadikan perempuan sebagai obyek, dan menjadi alasan untuk melakukan kekerasan Apa yang dikenakan seorang perempuan, apa dan berapa banyak dia minum miras, dan di mana dia berada pada waktu tertentu, bukanlah persetujuan untuk memperkosanya.

2. Terlibatlah dalam memastikan implementasi undang-undang yang mempromosikan kesetaraan gender termasuk hadirnya undang-undang yang menjadikan setiap bentuk kekerasan seksual sebagai kejahatan.

4. Mendidik generasi berikutnya. Mendidik generasi berikutnya mengenai nilai-nilai kesetaraan laki-laki dan perempuan, menghilangkan stereotip gender, dan definisi baru terkait konsep maskulinitas dan feminitas, akan membantu generasi berikutnya tidak mewarisi budaya ketakutan akan kekekerasan seksual.

Jika kita baru menyadari bahaya kekerasan seksual setelah mendengar kasus pemerkosaan, pedophilia hingga pemerkosaan sadis setelah dicekoki obat terlarang atau alkohol, maka kita sudah ada di level 'lambat' alias berkemungkinan gagal menyelamatkan hidup korban. Sehingga, semua pihak memang harus bersama-sama bertanggung jawab mulai dari pencegahan, advokasi terhadap korban hingga mengawal hukuman bagi pelaku. Mengapa kita semua harus bertanggung jawab meski saat ini hidup di zona nyaman? Karena kita semua berkemungkinan menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual. Sehingga, memerangi kekerasan seksual adalah kewajiban sebagaimana memerangi pembunuhan.

Setiap orang berhak atas rasa amah dari kejahatan dalam bentuk apapun, termasuk kekerasan seksual. Oleh karena itu, negara wajib memberikan perlindungan hukum. Selama ini, kebijakan terkait kasus kekerasan seksual masih sangat lemah dan seringkali menjadikan korban sebagai tersangka, hingga membebaskan pelaku karena lemahnya alat bukti. Alat ukurnya sederhana saja, yaitu meningkatnya kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun. Korban kekerasan seksual adalah pihak yang lemah sehingga harus mendapatkan perlindungan hukum yang adil dari negara, dan pelaku harus diganjar sesuai perbuatannya. Setiap warga negara berhak atas rasa aman. (*)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL