Jauh Sebelum Covid, Penyakit Beri Beri di Bangka Belitung Menelan Ribuan Nyawa

Abeng    •    Jumat, 13 November 2020 | 18:29 WIB
Nasional
Kuli tambang timah masa Kolonial Belanda.(ist)
Kuli tambang timah masa Kolonial Belanda.(ist)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com --Ratusan kepala keluarga di Dusun Deniang, Desa Deniang, Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka dikarantina wilayah setelah 25 warga dinyatakan positif Covid-19 (Corona). Dusun Deniang diputuskan untuk menjalani karantina wilayah. Satu-satunya dusun di Provinsi Bangka Belitung menjalani karantina wilayah, masa pandemi  Covid-19 yang teridentifikasi pertama kali pada 30 Maret 2020, terhadap seorang pria (54) di Belitung.

Bangka Belitung, pernah mengalami wabah  penyakit yang tak kalah ganasnya. Dari laporan pertama tentang penyakit di Bangka pada tahun 1850-an, beri-beri ada dalam laporan pemerintah Kolonial Belanda sebagai penyakit yang mematikan.

Pertama kali diidentifikasi oleh Jacobus Bontius di Maluku pada 1629, hingga akhir abad ke-19 para ilmuwan medis percaya bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman. Teori ini lalu terpatahkan oleh riset-riset Christiaan Eijkman dan Gerrit Grijns pada 1890-an. Keduanya punya teori bahwa ada hubungan antara beri-beri dan komposisi makan (diet) masyarakat Hindia Belanda.

Dari temuan Eijkman ini kemudian impor beras besar-besaran ke Pulau Bangka untuk memenuhi kebutuhan beras sebagai upaya mencegah beri-beri yang sudah menjadi  epidemi di Bangka, puluhan bahkan mencapai ratusan para pekerja tambang timah asal China di Bangka meninggal karena beri-beri. Ratusan pula para pekerja tambang ini dikirim di rumah sakit karantina di Bogor, Jawa Barat. Bahkan penderita beri-beri ‘dievakuasi’ ke negeri asal dengan alat tranposrtasi laut yang sangat buruk.

Dr.C.F.A Schneider dengan judul ‘Beri Beri’ tahun 1862, melakukan penelitian terhadap penyakit ini di Pulau Bangka. Sejumlah catatan tentang penyakit ini sangat menakutan. Bahkan Penulis sejarah Mary Somers Heidhues   dalam artikel tulisan melihat kasus biri-biri di Pulau Bangka layak sebagai tempat utuk menjelaskan teori penularan beri-biri. Sebab dalam kasus lokal,  para pemilik tambang timah di Bangka tidak mampu lagi mengirim penderita beri-beri ke rumah sakit. Pekerja tambang timah yang terkena penyakit ini diisolasi jauh dari lokasi permukiman dan tambang dengan dibekali makanan secukupnya.

Mary Somers Heidhues   dalam  3 The epidemic that wasn’t Beriberi in Bangka and the Netherlands Indies (Cleanliness and Culture : Indonesia Historie oleh Kees Van Dijk  dan Jean Gelam Taylor Publisher:Bril lSeries:Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1992), menulis  : 

“Dari laporan pertama tentang penyakit pada tahun 1850-an hingga meningkat secara radikal pada tahun 1910-an. Puluhan tahun para pejabat di pulau kecil ini tidak berdaya,  penyakit itu  menjangkiti para pekerja. Sebagian besar pekerja timah, yang disebut kuli, biasanya imigran dari China. Jika kisah pencarian para ilmuwan tampaknya  seperti kisah sukses,  situasi di lapangan adalah tragedi selama puluhan tahun. Bangka adalah tempat yang ideal untuk memberikan dukungan pada 'racun' atau teori 'infeksi' beri-beri.” Tulis Mary  Sommers Heidhues yang juga menulis Timah Bangka dan Lada Mentok : Peran Masyarakat Tionghoa dalam Pembangunan Pulau Bangka .

Tidak saja di Bangka, di Pulau Belitung, beri-beri menyebar secara drastis. Dalam tulisan itu Mary  Somer mengatakan produksi timah di Belitung ada di tangan perusahaan swasta, baru dibuka secara resmi pada tahun 1852. Penyakit ini sudah ada dan meningkat dengan cepat setelah itu, terutama pada tahun 1880-an, dan berakhir lebih awal dari pada di Bangka. Tujuh ratus penambang meninggal karena beri-beri sebagai pada awal Februari-Maret 1863.Seorang spesialis tambang pada tahun berikutnya melaporkan bahwa dalam satu bulan 63 persen pekerja tambang dari  China meninggal karena penyakit yang tidak diketahui.  Pada 1888-1889 ada 550 kasus beri-beri. Pada tahun berikutnya, di antara 8.334 pekerja, ada 588 kasus, 41 di antaranya meninggal. Sebanyak 441 korban beri-beri telah 'dievakuasi' ke China.

Setelah menyusut antara tahun 1893 dan 1903, penyakit itu tiba-tiba memuncak pada tahun 1903-1904. Sekali lagi, hampir 300 orang dievakuasi, sebagian besar mereka  adalah pekerja asal China. Tidak saja beri-beri, ada penyakit lainnya seperti malaria juga menjadi epidemi di Bangka Belitung.

Dari penelitiannya kasus beri-beri di Bangka,  Mary Somers berkesimpulan, penularan dan mengatasi beri-beri yang melanda para pekerja tambang di Bangka Belitung adalah tanggungjawab para pejabat dan pengusaha tambang di daerah karena menjadi tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan makanan dan gizi para pekerja.

“Bahwa sebuah kebenaran abad  20 menunjukkan bahwa jika manusia diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi, mereka menjadi sesuatu yang kurang di mata manusia yang melihatnya. Konsentrasi pada kotoran dan infeksi, atau tentang impor penyakit dari China, hanya sebagai alasan yang lebih mudah bagi administrator dan pejabat pemerintah daripada memperbaiki  pola makan para penambang  sebagai tanggungjawab  mereka . Tugas administrator, pengusaha tambang untuk memasok beras yang  semestinya harus disalahkan. Mungkin 'epidemi' ini juga merupakan metafora untuk ketidakpedulian mereka. Demikin tulis Mary Somers. (*)




MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE