Balai Karantina Pertanian Musnahkan 50 Kg Kikil

Firman    •    Selasa, 17 November 2020 | 17:43 WIB
Lokal
Caption: Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, memusnahkan media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK dan OPTK) hasil dari tindakan karantina penahan, di instalasi karantina pertanian, Kota Pangkalpinang,Selasa (17/11/2020) siang.  (IST)
Caption: Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, memusnahkan media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK dan OPTK) hasil dari tindakan karantina penahan, di instalasi karantina pertanian, Kota Pangkalpinang,Selasa (17/11/2020) siang. (IST)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, memusnahkan media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK dan OPTK) hasil dari tindakan karantina penahan, di instalasi karantina pertanian, Kota Pangkalpinang,Selasa (17/11/2020) siang. 

Pemusnahan tersebut, dilakukan Balai Karantina bersama Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Pangkalbalam.

Menurut Kepala Balai Karantina Pertanian Pangkalpinang drh, Saifuddin Zuhri mengatakan, media pembawa kikil tersebut, dimusnahkan karena tidak dilengkapi dokumen karantinanya.

"Jadi, untuk melalulintaskan media pembawa baik hewan, tumbuhan serta produk-produknya harus dilengkapi dengan dokumen karantina dari daerah asal, namun ntuk kikil ini justru btidak dilengkapi dengan sertifikat sanitasi produk hewan (KH-12) dari daerah asal," ungkap Zuhri.

Zuhri menyebutkan, selain tidak dilengkapi dokumen Karantina, barang tersebut juga sudah tidak layak konsumsi.

"Pejabat Karantina Pertanian Pangkalpinang wilayah kerja Pelabuhan Pangkalbalam, sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan dokumen karantina namun pemiliknya tidak dapat menunjukan," terangnya.

Ditambahkan Zuhri, pihaknya dilapangan melakukan pemeriksaan fisik, dan dari hasil pemeriksaan fisik Kikil tersebut, sudah berlendir dan berbau anyir.

"Jadi pas dilakukan pemeriksaan fisiknya  juga dikuatkan dengan pemeriksaan laboratorium oleh Karantina Pertanian Pangkalpinang," jelas Zuhri.

Selain kikil sapi, tindakan karantina pemusnahan yang lain juga dilakukan terhap media pembawa bibit tanaman Paulownia/Jabon dalam bentuk kultur jaringan.

"Bibit tanaman Paulownia/Jabon yang dimusnahkan dalam kesempatan ini dalam bentuk kultur jaringan sebanyak 1000 plantet yang dikemas ke dalam 2 boks. Bibit tanaman ini berasal dari Malaysia, sebelumnya terhadap bibit tanaman sudah dilakukan tindakan karantina penahanan karena tidak dilengkapi dengan dokumen karantina sertifikat kesehatan karantina tumbuhan dari negara asal," tambah Zuhri.

Lanjutnya, barang-barang tersebut, sangat membahayakan karena tidak dijamin kesehatannya dari daerah asal dan negara asal.

"Untuk media pembawa baik hewan, tumbuhan dan produknya harus disertai dengan dokumen karantina, baik itu saat melalulintaskan dari daerah asal, atau negara asal," imbuhnya.

"Karena dengan disertai dokumen tersebut sudah dilaporkan kepada pejabat karantina, dijamin kesehatannya dan tentunya tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku," sambungnya.

Tidak hanya itu, melalulintaskan hewan, produk hewan ataupun tumbuhan antar area apabila tidak dilengkapi dokumen karantina telah melanggar Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, baik Ikan dan Tumbuhan dapat diancam dengan ancaman pidana kurungan penjara maksimal dua tahun dan pidana denda maksimal dua miliar rupiah.

"Sedangkan untuk memasukkan dari luar negeri atau import apabila melanggar dapat diancam dengan ancaman pidana kurungan penjara maksimal sepuluh tahun, dan pidana denda paling banyak sepuluh miliar rupiah," tegas Zuhri.

Bahan-bahan media pembawa yang dimusnahkan itu, diantaranya kikil sapi dan bibit tanaman Paulawnia/Jabon dalam bentuk kultur jaringan, Kikil sapi sebanyak 50 kilogram dan berasal dari Jakarta Timur dengan tujuan Pangkalpinang melalui pelabuhan Tanjung Priok dan akan di bongkar di Pelabuhan Pangkalbalam Pangkalpinang. (fn/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL