Dua Napi Gunakan Narkoba, Ini Kata Kepala Rutan Muntok

Caption: Kepala Rumah Tahanan Kelas II B Muntok, Abdul Rasyid Meliala. (rul/wb)
Caption: Kepala Rumah Tahanan Kelas II B Muntok, Abdul Rasyid Meliala. (rul/wb)

MUNTOK, www.wowbabel.com -- Kepala Rumah Tahanan Kelas II B Muntok, Abdul Rasyid Meliala mengakui kecolongan dalam melakukan pengawasan para narapidana. Hal ini pasca adanya dua orang narapidana yang kedapatan menggunakan narkoba jenis sabu-sabu di dalam Rutan.

Abdul Rasyid Meliala mengakui hal ini akibat keterbatasan SDM dan alat pengamanan di Rutan.

"Dalam rangka pemeriksaan itu kita sangat teliti. Namanya kita juga manusia ada kekurangan dan kita juga tidak punya kelebihan. Disini kami memang untuk pemeriksaan itu tidak ada alat untuk memindai seperti yang ada di bandara-bandara" ucap Abdul, Rabu (25/11/2020).

Ia menyebutkan, sebenarnya di era Pandemi Covid-19 ini ada kebijakan untuk masyarakat tidak diperbolehkan membesuk secara langsung dan dialihkan lewat video call. Namun, Rasyid menjelaskan karena hampir 80% penghuni warga binaan adalah warga lokal maka ada kelonggaran dan toleransi kebijakan untuk dapat menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar sebagai tujuan melayani masyarakat.

"Jangan nanti dengan adanya Covid-19 ini kami tidak melayani dengan cara melayaninya biasanya. Kami disini ada video call atau vidcon kepada keluarga dan warga binaan yang kami siapkan," jelasnya.

Ia menjelaskan, saat diberitahukan petugas ada masuknya narkoba tersebut, pihaknya langsung melakukan penggeledahan total sehingga setelah ditemukan dari Napi tersebut langsung dikordinasikan ke pihak kepolisian.

"Seumur hidup saya tidak pernah memakai sabu sehingga kami itu kurang paham, betul enggak apakah ini garam atau sabu. Makanya pada saat kami temukan itu langsung malam itu juga kami melaporkan ke Kasat Narkoba," ujarnya.

Abdul Rasyid menyebutkan kelemahannya Rutan Muntok ini karena keterbatasan SDM, dirinya menyatakan satu petugas bisa mengawasi hingga 20 warga binaan sehingga kurang ketat dalam pengawasan.

"Kami kalau satu regu ini ada lima orang berarti satu orang mengawasi 100 orang sedangkan isi kita 160," ucap Abdul Rasyid.

Abdul mengakui Rutan Muntok masih kekurangan petugas, dan juga tidak ada alat canggih untuk memindai barang-barang yang dicurigai terlarang masuk ke Rutan.

"Bangunan kita ini bangunan Belanda jadi kalau dilihat dari fisik dan kondisinya ini sebenarnya sudah bisa direhab, seharusnya direhab dengan bangunan yang baru," tuturnya.

Abdul berharap kedepannya akan memperketat pengawasan dan serta menghimbau petugas agar jangan terlibat dalam pemakai, pengedar, atau pemakai narkoba karena apabila terlibat akan dipecat.

"Kalau saya perkirakan ini tidak ada orang dalam karena petugas kami ini kami sering melakukan tes urine," tegasnya. (rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL