Nelayan Belo Laut Bersedih KIP Masuk, Minta Perlindungan

Caption: Warga Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat yang menolak aktivitas KIP di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok diterima DPRD Kabupaten Bangka Barat untuk beraudiensi di Gedung Mahligai Betason II DPRD Kabupaten Bangka Barat, Rabu (2/12/2020). (rul/wb)
Caption: Warga Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat yang menolak aktivitas KIP di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok diterima DPRD Kabupaten Bangka Barat untuk beraudiensi di Gedung Mahligai Betason II DPRD Kabupaten Bangka Barat, Rabu (2/12/2020). (rul/wb)

MUNTOK, www.wowbabel.com -- Warga Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat yang menolak aktivitas KIP di Desa Belo Laut Kecamatan Muntok diterima DPRD Kabupaten Bangka Barat untuk beraudiensi di Gedung Mahligai Betason II DPRD Kabupaten Bangka Barat, Rabu (2/12/2020).

Rapat Dengar Pendapat ini dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Bangka Barat, didampingi oleh Wakil Ketua II, Kapolres, dan Dandim dengan dihadirkan setengah dari Anggota DPRD, OPD Terkait serta pihak PT Timah Muntok dan perwakilan massa. 

Salah satu masyarakat, Antoni atau disapa Bang Ton warga Terabik Desa Belo Laut mengungkapkan bahwa pihaknya meminta perlindungan dari pemerintah sebagai warga nelayan.

"Saya sampaikan ini saya beri dengan sebuah judul nelayan dan masyarakat Desa Belo Laut menangis dengan keadaan kondisi hari ini. Kami sebagai nelayan umumnya itu sangat bersedih dengan beroperasinya KIP," ungkap Bang Ton.

Bang Ton menuturkan tempat beroperasinya KIP itu adalah tempat teman-temannya mencari nafkah sebagai seorang nelayan pesisir.

"Kami tidak punya keahlian bekerja dibidang lain, kalau mau dipilih kami tidak mau jadi nelayan tapi memang mungkin nasib kami kurang beruntung," ujarnya.

Bang Ton memahami pihak PT Timah yang hadir hanya menjalankan tugas tapi meminta agar tidak selalu menggunakan ego sekali kali bisa membuka hati kepada nelayan.

"Berapa banyak hati nelayan yang terluka karena beroperasinya KIP ini. Jadi poin dan intinya yang saya dengar isu burung bahwa pihak KIP akan memberikan kompensasi tapi bukan itu yang kami mau, kami butuh perlindungan tempat kami mencari nafkah ini," tuturnya.

"Kami senang dapat sekilo beras yang penting kami damai aman tempat kami mencari nafkah tidak diganggu. Kami bukan untuk ditakuti padahal kami perlu perlindungan perlu diayomi itukan menurut saya orang yang tidak berpendidikan ini," tambah Bang Ton.

Alpian dan rekannya yang beraudiensi sempat mengungkapkan aspirasinya sambil menangis akibat tidak sanggup berbicara lagi dan menegaskan menolak keras KIP tersebut. (rul/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL