1.116 Lembar Uang Palsu yang Beredar di Bangka Belitung Dimusnahkan

Firman    •    Jumat, 11 Desember 2020 | 19:04 WIB
Lokal
Kantor Perwakilan Bank indonesia (KPwBI) Provinsi Bangka Belitung bersama Polda Bangka Belitung memusnahkan uang rupiah palsu, Jumat (11/12/2020) di Ruang Tanjung Kelayang KPwBI Provinsi Bangka Belitung.(fn/wb)
Kantor Perwakilan Bank indonesia (KPwBI) Provinsi Bangka Belitung bersama Polda Bangka Belitung memusnahkan uang rupiah palsu, Jumat (11/12/2020) di Ruang Tanjung Kelayang KPwBI Provinsi Bangka Belitung.(fn/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Kantor Perwakilan Bank indonesia (KPwBI) Provinsi Bangka Belitung bersama Polda Bangka Belitung memusnahkan uang rupiah palsu, Jumat (11/12/2020) di Ruang Tanjung Kelayang KPwBI Provinsi Bangka Belitung.

Pemusnahan temuan uang rupiah palsu (urupal-red) sebanyak 1.116 lembar, dengan mayoritas pecahan uang palsu Rp 100.000 dan Rp 50.000. Pemusnahan ini berdasarkan Surat No.1/Pen Pid/2020/PN Pgp tanggal 17 Februari 2020 tentang Penetapan Permohonan izin Melakukan Pemusnahan Barang Temuan Rupiah Palsu oleh Ketua Pengadilan Negeri Pangkalpinang dan Surat No.B/880/11/2020/Dit Reskrimsus Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Kepulauan Bangka Belitung tanggal 27 Maret 2020.

Pemusnahan uang Rupiah Palsu ini dengan menggunakan Mesin Racik Uang Kertas (MRUK). 

Menurut Deputi Direktur KPwBI Provinsi  Babel, Tantan Heroika temuan uang palsu ini bersumber dari laporan masyarakat di loket penukaran Bank Indonesia 

"Dari hasil pengolahan uang dengan menggunakan mesin sortasi uang kertas (MSUK) dan hitung Ulang Manual (HUM) dan kemudian laporan dari perbankan yang ada di wilayah Provinsi Bangka Belitung," ungkap Tantan

Selain itu Ia menyebutkan, berdasarkan data aplikasi Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center (BI-CAC) selama 5 tahun terakhir sejak 2015 temuan uang palsu menunjukkan tren yang terus menurun.

"Uang palsu ini dari 2015 hingga 2019 yang nominalnya tidak diakui oleh kita, ada tiga bank, yaitu BCA, HSBC dan CIMB, sedangkan untuk bank lain tidak ada yang melapor, jadi tidak terdeteksi," terangnya.

Ia menambahkan pemusnahan uang palsu ini guna melindungi masyarakat dari tindak kejahatan pemalsuan uang rupiah, dan sehingga uang palsu yang ditemukan tak beredar kembali di kalangan publik.

"Jadi untuk menjaga dan membatasi ruang gerak daripada peredaran uang palsu agar masyarakat bisa mendeteksi sejak dini dengan cara diraba, dilihat dan diterawang," pesan Tantan.

Ditambahkannya, Bank Indonesia  terus berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait uang rupiah melalui kegiatan publikasi dan edukasi ciri-ciri keaslian uang rupiah (CIKUR) kepada masyarakat.

"Kegiatan itu rutin dilakukan oleh Bank Indonesia melalui sosialisasi dan langsung  menggunakan media sosial," tuturnya.

Tidak hanya itu, BI telah membentuk organisasi Badan Koordinasi Pemberatasan Rupiah Palsu (Botasupal) sebagai salah satu wadah untuk optimalisasi sanksi hukum terhadap pelaku tindak pinda uang palsu untuk menciptakan efek jera. 

"Ke depan, kegiatan edukasi dan sosialisasi mengenai ciri khas rupiah yang akan kita edukasi ke seluruh pelosok masyarakat agar bisa membedakan mana yang asli dan mana yang dipalsukan. Jika masyarakat sudah bisa membedakan itu. Kita harapkan bisa membantu aparat untuk mencari pengedar dan pembuat uang palsu tersebut," tuturnya.

"Untuk itu kita mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan 3D (dilihat, diraba, diterawang), senantiasa menjaga dan merawat rupiah agar semakin mudah mengenali keasliannya," pesan Tantan.(fn/wb)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL