Trah Rosman Tak Tergoyahkan

Tim_Wow    •    Senin, 14 Desember 2020 | 11:41 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh Albana Wartawan Senior di Babel

 

CALON bupati/wakil bupati  terpilih Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 tinggal menunggu penetapan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari data sementara, calon pemenang sudah terlihat. Di Bangka Tengah, duet Algafry Rahman-Herry Erfian dengan mulus keluar sebagai pemenang. Dominasi trah Rosman Djohan belum tergoyahkan.

Tiga kali pilkada serentak digelar sejak 2010, juaranya dikuasai anak-anak Rosman Djohan, mantan Wali Kota Pangkalpinang. Dimulai dari Erzaldi Rosman sebagai Wakil Bupati Bangka Tengah Periode 2005-2010. Berlanjut hingga dua periode berikutnya sebagai bupati. Sukses menguasai Bangka Tengah, membawa Erzaldi hingga merebut kursi Gubernur Babel Pilkada 2017.

 Sepeninggal Erzaldi di Bangka Tengah ternyata tak mengoyahkan  dominasi di Pilkada 2020, sang kakak Herry Herfian meski calon wakil bupati mewarisi dominasi keluarga ini. Lawan yang dihadapi, tergolong kelas berat Didit Srigusjaya-H Korari Suwondo, dua pentolan PDI Perjuangan. Sejak Pileg 2004, jadi langganan kursi DPRD.   

Sejumlah opini menyebutkan kekalahan  Herry Herfian dan adik Erlan  pada Pileg 2019 akan menutup dominasi trah Rosman Djohan di Bangka Tengah. Hasil Pilkada 2010, menjungkir balikkan  pendapat itu.  Justru mengokohkan dominasi keluarga ini di panggung politik Bangka Belitung. Faktor Erzaldi Rosman sebagai Gubernur Babel sekaligus Ketua Partai Gerindara Babel salah satu kekuatan.

 Ada banyak pendapat dengan berbagai teori menjelaskan hasil Pilkada Kabupaten Bangka Tengah 2020 yang baru saja usai. Dari sisi perilaku pemilih, peneliti politik Babel, Ranto dari Ranto Syndcate menjelasakan fenomena terpilih pasangan Algafry- Herry Erfian dengan teori hukum besi.

 Hukum besi prilaku pemilih, menurut Ranto,  jika dalam sebuah momen politik ada kontestan yang tingkat elektabilitasnya stagnan bahkan cenderung menurun dan pesaingnya secara konsisten terus meningkat meskipun pelan merupakan petanda awal kekalahan bagi kandidat yang elektabilitasnya stagnan-cenderung menurun. Teori ini lazim digunakan oleh para peneliti politik.

Teori ini  satu aspek  dalam melihat  perilaku  pemilih. Ada banyak faktor menentukan perilaku pemilih. Secara umum para ahli politik dalam penjelasan teoritis tentang voting behavior membaginya dalam tiga model/pendekatan, yakni faktor sosiologis pemilih (latar belakang demografi dan sosial ekonomi), faktor psikologis pemilih (kedekatan pasangan calon dengan pemilih), dan faktor rasional pemilih (pemilih cerdas terhadap bukti nyata pasangan calon).

Selain dari  tiga model pendekatan ini, untuk menjelaskan kemenangan pasangan Algafry-Hery Erfian di Bangka Tengah adalah pengaruh dukungan yang diberikan oleh Erzaldi Rosman sebagai mantan bupati dua periode sekaligus Gubernur Babel. Faktor Erzaldi melengkapi kekuatan pemenangan,  setelah dukungan tiga partai pengusung utama pasangan Algafry-Erfian yakni Nasdem, Gerindra, dan Golkar.

Dari sisi sosok Erzaldi, elemen yang paling kokoh menopang kursi kekuasaannya bukan lingkaran elite politik di sekitarnya, melainkan dukungan rakyat dan kelas menengah yang sangat militan yang sudah terinstitusionalisasi selama memimpin Bangka Tengah. Langkah inipun dilakukan saat dua setengah tehun menjabat gubernur. Targetnya adalah untuk masa jabatan kedua kurang dari dua tahun lagi.

Catatan lain dari fenomena pelaksanaan Pilkada 2020 di Bangka Tengah membuktikan legitimasi dinasti politik  masih memiliki daya tarik. Tak saja Bangka Tengah,  sebagian tempat berhasil memenangkan kontestasi politik lima tahunan tersebut. Tengok saja hasil Pilkada Solo, Medan, Tangerang Selatan, Kediri, Sleman, Banyuwangi, Ogan Komering Ilir, hingga Pandeglang. Semua calon yang terafiliasi dengan penguasa pusat atau penguasa-penguasa lokal di daerah tersebut menang. (*)





MEDSOS WOWBABEL