Masa Depan Politisi Tionghoa di Bumi Serumpun Sebalai: Layu Sebelum Berkembang (1)

Jurnalis_Warga    •    Rabu, 16 Desember 2020 | 11:22 WIB
Opini
Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu).(ist)
Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu).(ist)

Oleh: Ranto (Peneliti Demokrasi dan Pemilu)


Satu jam menjelang magrib kemarin saya mendapat telepon dari seorang sahabat lama yang berada di Kota Manado. Seperti biasa, selain bertanya kabar tak luput bercerita tentang  perkembangan politik lokal di daerah masing-masing. Pilkada Serentak 2020 yang baru saja digelar memberikan informasi yang cukup penting terkait dengan perjalanan politik kelompok minoritas di Indonesia khususnya di daerah yang berjuluk Kota Sambal Dabu-dabu. 

Pasalnya, di Manado telah melahirkan seorang pemimpin berlatarbelakang agama Konghucu pertama di Indonesia. Kemenangan kandidat Andrei Anguow- Richard Sualang dengan perkiraan sementara di angka 36,4% cukup meyakinkan. Mengabarkan fenomena di Manado, sahabat saya begitu antusias. Semangat optimisme dalam memperkirakan munculnya politisi dari kalangan minoritas untuk masa depan sepertinya menemui rasionalitas jika mendengar cerita dari Manado tadi. 

Selesai dia bercerita, tibalah pertanyaan ditujukan kepada saya. Bagaimana dengan kondisi di Bangka Belitung yang telah menelurkan sejarah lahirnya Bupati Pertama beretnis Tionghoa di Indonesia pada tahun 2005 yang lalu?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, saya membutuhkan sedikit helaan nafas yang panjang agar bisa mengingat kembali berbagai peristiwa politik yang berlalu. Pelan tapi pasti, sayapun kemudian cukup berhasil (menurut versi diri sendiri)mengumpulkan serpihan-serpihan patahan sejarah keterlibatan etnis tionghoa dalam berbagai arena politik.

Saya memulai cerita dari Pilkada 2008 dan 2010. Di tahun 2008, paling tidak ada dua kandidat etnis tionghoa yang muncul di Bangka Belitung, yakni Rudianto Tjen (Kabupaten Bangka) dan Fify Lety di Kota Pangkalpinang). Sayangnya, ke dua nama yang disebutkan ini tadi belum berhasil memenangkan kompetisi politik. Sedangkan, untuk tahun 2010, di Belitung Timur, Basuri Tjahja Purnama adik kandung Ahok berhasil terpilih menggantikan kakak kandungnya. Di periode ini masih memberikan harapan bagi lahirnya pemimpin Tionghoa.

Berikutnya, saya teringat pada momen politik 2015. Incumbent Basuri Tjahja Purnama kembali bertarung. Kali ini politisi Tionghoa tadi gagal mempertahankan kekuasaannya. Kejutan kembali muncul di Bangka Barat. Pada waktu itu, almarhum Parhan Ali berpasangan dengan Markus seorang politisi dari kalangan etnis Tionghoa. Dan, pasangan ini terpilih. Dalam perjalanan kepimpinan berjuluk PAHAM (Parhan Ali-Markus), Markus mengambil alih tampuk kekuasaan paska meninggalnya Bupati. Catatan ini kemudian memberikan harapan untuk melihat dinamika politisi Tionghoa yang ada.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL