Cegah Kekerasan Anak Sejak Dini

Jurnalis_Warga    •    Senin, 21 Desember 2020 | 12:49 WIB
Opini
Adna Salsabila, Mahasiswa Jurusan Hukum UBB
Adna Salsabila, Mahasiswa Jurusan Hukum UBB

MASA kanak-kanak merupakan masa yang sangat membutuhkan peran berupa perhatian dan kasih sayang orang tua dalam perkembangan anak. Dari kecil hingga pada saat di usia 6 tahun pertama, merupakan waktu yang penting untuk tumbuh kembang, serta pembentukan kepribadian. Yang mana anak akan memulai pendidikan awal. Mengingat pentingnya masa tersebut, sudah sepantasnya anak mendapatkan perlakuan yang baik, termasuk kebutuhan dan hak-haknya.

Kekerasan anak adalah contoh dari pelanggaran hak asasi manusia. Dan juga pelanggaran yang dampak kekerasan pada anak bisa mendatangkan trauma yang berkepanjangan sampai usia dewasa. Akibatnya, anak tidak bisa menikmati masa kecilnya dan akan berkemungkinan akan melalukan hal sama terhadap orang disekitarnya, dan akan selalu dikenang jika masa kecilnya terdapat kenangan pahit, faktor itu juga mendorong dirinya untuk melakukan kekerasan yang sama. Maka dari itu kekerasan pada anak sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup anak tersebut dimasa depan nanti.

Kekerasan terhadap anak merupakan tindak kekerasan secara fisik, psikologis, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Yang mana kekerasan ini sangat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik terhadap anak.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit(CDC), di Amerika Serikat menyebutkan bahwa penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang mana dapat membahayakan, atau berpotensi akan terjadinya bahaya yang akan memberikan ancaman yang buruk terhadap kehidupan anak. Sebagian besar terjadinya kekerasan terhadap anak di rumah anak itu sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah, di lingkungan atau organisasi tempat anak berinteraksi. Hingga saat ini Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap anak: pengabaian terhadap anak, kekerasan fisik pada anak , pelecehan emosional,psikologis terhadap anak serta pelecehan seksual terhadap anak sejak dini.

Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan perlindungan dan tumbuh kembang anaknya.

Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Namun orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini dengan kekerasan. Bagi orangtua, tindakan anak yang melanggar perlu dikontrol dan dihukum. Yang mana dampak kekerasan terhadap anak akan mendatangkan trauma yang dalam hingga akan terbawa hingga dewasa. Emosional anak juga akan terganggu serta dapat menimbulkan gangguan secara mental.

Berbagai aspek menjadi faktor utama dampak dari kekerasan terhadap anak , yang pertama bahwa fisik dan mental anak tentu akan terguncang ketika hal tersebut menimpanya , yang kedua, dapat menyebabkan anak melakukan agresivitas. Agresivitas adalalah adanya perasaan-perasaan marah, permusuhan, atau tindakan yang dapat melukai orang lain , lebih tepatnya ia akan melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Tentu negara menjamin upaya Perlindungan Anak yang dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 28B ayat (2) yang mana dijelaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbguh , dan berkembang serta berhak atas perlindungan dan kekerasan serta diskriminasi. Dan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Maka dari itu sangat diharapkan agar kekerasan terhadap anak ini tidak lagi terjadi, sungguh sangat disayangkan jika terjadi karna banyak sekali faktor yang memicu dampak negatif secara mental maupun fisik anak, sayangilah dan bimbing anak dengan baik dan penuh kasih sayang. (*)


 Adna Salsabila, Mahasiswi Jurusan Hukum UBB



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL