Catatan Ekonomi Timah Babel 2020: Ekonomi Terkontraksi, Timah Rugi Lagi

Tim_Wow    •    Senin, 28 Desember 2020 | 17:16 WIB
Lokal
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

SEKTOR pertambangan, khususnya  timah  di tahun 2020 belum mampu mengembalikan kejayaan perekonomian Bangka Belitung. Kendati menyumbang 80% dari total ekspor Babel, timah belum bisa mendongkrak pertumbuhan di masa pandemi Covid-19.

Kelesuan tambang timah sudah terjadi sejak 2019, dampaknya pada pertumbuhan ekonomi Babel yang hanya tumbuh 1,37% triwulan pertama tahun 2020. Harga komiditas timah di pasar internasional melemah. Di dalam negeri adanya pembatasan ekspor timah turut berkontribusi. Harapan agar komuditas timah menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Babel di tahun 2020 kandas.

Alih-alih untuk mendorong pertumbuhan, sebaliknya ekonomi Babel terkontraksi dalam di triwulan dua dan tiga. Di triwulan dua, kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB (Prduct Domestic Regional Bruto)  Babel  hanya 7,4%. Sektor pertanian dan perkebunan malah tumbuh positif mencapai 27%.

Pada masa jaya era 2015, kontribusi pertambangan timah terhadap PDRB Provinsi Babel  menyumbang 60%. Sejalan waktu, digdaya tambang makin menciut, kontribusi sekitar 11% di tahun 2019 dan menyisakan  7,4% saja pada kwartal II tahun 2020.

Pandemi Covid-19 makin menekan harga timah dunia. Pada Maret-April 2020 harga jual timah termurah kurun 10 tahun terakhir, yakni 13.000 USD/metrik ton. Hal ini dipicu dari pemberhentian sementara produksi barang-barang elektronik, smartphone dan teknologi lainnya yang bahan dasarnya menggunakan timah, yang akhirnya menyeret penurunan permintaan terhadap timah.

Direktur Utama Timah Riza Pahlevi kepada media kala itu mengatakan, PT Timah Tbk (TINS) sebagai perusahaan penambang timah terbesar di Indonesia menunggu perkembangan pasar untuk mengakselerasi penjualan terutama pasar ekspor. TINS menurunkan produksi dan menahan penjualan hingga harga dinilai menguntungkan perusahaan. 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL