Pilkada Bangka Barat, Kuburan Keramat Bagi Petahana

Chairul Aprizal    •    Kamis, 31 Desember 2020 | 13:29 WIB
Opini
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

Oleh: Chairul Aprizal, Jurnalis wowbabel.com


PETAHANA acap kali  diperhitungkan pada setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maka tak heran bisa dikatakan sebagai lawan yang tangguh. 

Memiliki modal yang kuat, mampu menjangkau semua segmen pemilih, mudah menggerakkan birokrasi serta didukung oleh penguasa. Faktor-faktor tersebut membuat petahana sulit ditumbangkan. 

Namun anggapan petahana selalu unggul tampaknya tak berlaku di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Sepanjang sejarah pelaksanaan Pilkada di Bangka Barat, semua petahana tumbang saat mencalonkan kembali. 

Sejarah ini kembali terulang pada Pilkada Bangka Barat 2020, Markus yang berpasangan dengan Badri harus menelan pil pahit dan tumbang dalam kontestasi pilkada.

Markus, yang merupakan petahana menggandeng pasangan potensial yakni H Badri Syamsu yang duduk sebagai Ketua DPRD Bangka Barat. Keduanya merupakan kader partai penguasa,  PDI Perjuangan. 

Pasangan ini digadang-gadang sangat kuat, baik dari segi elektabilitas maupun finansial. Tak hanya diusung partai penguasa, PDI Perjuangan. Mereka juga dapat dukungan dari partai lain yakni Partai Golkar, Partai Demokrat dan PBB, yang tentunya memiliki massa cukup besar di Bangka Barat. 

Saat kontestasi berlangsung Markus-Badri hanya mampu mengantongi 31.013 suara. Kalah oleh pasangan H Sukirman- Bong Ming Ming yang memperoleh  44.977 suara. Sedangkan pasangan Safri-Eddy Arif meraup sebanyak 22.541 suara.

Dari catatan KPU Kabupaten Bangka Barat tak satupun petahana yang mampu memenangkan Pilkada selama empat kali digelar, sejak kabupaten ini dimekarkan. 

Pilkada pertama kali di Kabupaten Bangka Barat digelar Tahun 2005 yang saat itu masih pemekaran. Ketika itu kepala daerah Kabupaten Bangka Barat masih dijabat oleh bupati sementara yang belum definitif yakni Drs. H. Syaiful Rahman.

Kemudian Drs. H. Syaiful Rahman mencalonkan diri menjadi bupati berpasangan  dengan H Muhammad Hatta dan mendapatkan nomor urut satu. Kendati digadang-gadang sebagai pemenang, namun pada kenyataannya Syaiful Rahman-Hatta mampu dikalahkan H Parhan Ali yang bersanding dengan politisi PKS, yakni Ustadz H Zuhri M Syazali. 

Ketika itu Syaiful Rahman-Hatta meraup sebanyak 16.402 suara. Sedangkan Parhan-Zuhri mengumpulkan 21.699 suara. Sementara pasangan lainnya, H.Rozali- Drs.Djunaidi Soekinto meraup sebanyak 6.032 suara, serta Letkol.Kes.Sumini-Surianto Kho meraup sebanyak 4.439 suara. 

Pada Pilkada Bangka Barat 2010 sang petahana kembali kandas setelah pecah kongsi dengan sang wakil. 

Petahana Parhan saat itu berpasangan dengan H Erwan Masri dikalahkan oleh sang wakil yakni Ustadz Zuhri yang menggandeng H Sukirman. 

Parhan-Erwan hanya mengumpulkan  32.150 suara dan hanya kalah tipis dari pasangan Zuhri-Sukirman perolehan 32.279 suara. Sementara paslon lainnya Herwanto-H.Izhan Fathoni Said meraup suara sebanyak 5.384 suara, serta paslon Bayodandari- Sopian meraup sebanyak 4.498 suara. 

Kutukan tumbangnya petahana di Pilkada Bangka Barat 2015 kembali terulang. Ustadz H Zuhri yang pecah kongsi dengan H Sukirman memilih berpasangan dengan H Syaiful Fakkah. Sementara itu H Sukirman berpasangan dengan H Safri. Namun pasangan petahana ini tumbang dikalahkan mantan petahana yakni Parhan Ali yang berduet dengan Markus. 

Ustadz Zuhri-Syaiful Fakah meraup, sebanyak 24.295 suara, H Sukirman-Safri meraup sebanyak 29.040 suara, dan Parhan- Markus,SH sebagai pemenang meraup sebanyak 29.290 suara. 

Mengokohkan kutukan petahana tak pernah bisa meraih kembali jabatannya kembali terjadi di Pilkada 2020.  Markus yang naik kursi menjadi Bupati Bangka Barat setelah berpulangnya Almarhum Parhan Ali juga gagal memenangkan kontestasi sebagai sang Petahana.

Selain membuktikan Pilkada di Bangka Barat menjadi kuburan keramat untuk petahana, fenomena kekalahan para petahana ini menunjukkan bahwa karakter pemilih masyarakat di Bangka Barat masih menginginkan sosok berpengalaman, baik di legislatif maupun eksekutif.(*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL