Pajak Sektor Pertambangan di Babel Hanya Rp 609 Miliar

Caption:  Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pangkalpinang, Muchamad Arifin. (hdd/wb)
Caption: Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pangkalpinang, Muchamad Arifin. (hdd/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pangkalpinang, Muchamad Arifin mengungkapkan penyebab penerimaan pajak dari sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan minus sebesar 42,09 persen di tahun 2020.

Arifin mengatakan, kondisi tersebut disebabkan oleh perekonomian global menyebabkan permintaan ekspor komoditas dan harga komoditas timah menurun. Selain itu, disebabkan juga oleh berkurangnya produksi akibat turunnya harga dari komoditas timah.

"Penyebabnya ada dua, yang pertama karena pandemi ini maka permintaan global  timah itu turun. Harga timah turun otomatis daya belinya juga turun yang menyebabkan profit dari perusahaan menjadi turun juga," kata Arifin, saat penyampaian laporan evaluasi kinerja pelaksanaan APBN Triwulan IV Tahun 2020, Selasa (19/1/2021).

"Kedua juga produksinya, jadi harganya sudah turun produksinya juga turun. Sehingga penerimaan yang kemarin 2019 menjadi primadona penerimaan pajak, namun di tahun 2020 cukup terpukul karena turun sampai 42 persen," jelasnya.

Berdasarkan catatan yang diperoleh  sebelumnya, sektor penyumbang terbesar di Provinsi Bangka Belitung salah satunya berasal dari sektor Pertambangan dan Penggalian yang berkontribusi sebesar 28,75 persen dari total penerimaan pajak.

"Pajak dari pertambangan di Bangka Belitung itu sektornya adalah timah. Di tahun 2019 itu kita  menerima 1 triliun, kemudian di tahun 2020 itu Rp 609 miliar. Ada penurunan yang signifikan yaitu sebesar 42 persen dibandingkan tahun 2019," ujar Arifin. 

Akibat adanya penurunan dari sektor Pertambangan dan Penggalian yaitu minus sebesar 42,09 persen, kata Arifin, sangat memukul pada penerimaan pajak di Provinsi Bangka Belitung. Sedangkan penerimaan pajak di Provinsi Bangka Belitung sebagian besar berasal dari komoditas timah.

"Ini cukup memukul penerimaan dari sektor pajak, karena porsi dari pertambangan timah itu di Bangka Belitung mencapai 28 persen dari total penerimaan yang kami terima. Itu sangat memukul sekali," ungkap Arifin. (hdd/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL