PT Timah Maksimalkan Stok Untuk Penuhi Pasar Dunia

Tim_Wow    •    Rabu, 20 Januari 2021 | 11:27 WIB
Ekonomi
Caption: Balok Timah. (dok/wb)
Caption: Balok Timah. (dok/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - Harga timah di pasar dunia yang melonjak tak membuat PT Timah Tbk sebagai produsen terbesar kedua dunia jor-joran memasok timah ke pasar. Tahun 2021 BUMN tambang ini tetap memfokuskan pada persedian stok hasil produksi tahun lalu.

“Untuk strategi penjualan, perusahaan saat ini fokus untuk memaksimalkan stock inventory,” kata Direktur Niaga PT Timah Tbk, Purwoko saat menanggapi naiaknya harga timah dunia, Rabu (20/1/2021).

Pasar duani awal tahun 2020 mengalami kekurangan pasokan timah  sehingga  mendorong harga timah dunia mencapai 21.000 USD per metrik ton. Diperkirakan harga  menembus 23.000 USD per metrik ton. Bahkan tidak menutup kemungkinan harga timah dunia menyamai rekor tertinggi 25.000 USD per metrik ton seperti terjadi pada tahun 2013 karena kebutuhan akan timah semakin tinggi.

Pasar timah dunia sangat tergantung kepada pasokan timah dari Indonesia yang diproduksi oleh PT Timah Tbk. Tahun lalu imbas Covid-19 harga timah sempat turun drastis akibat kegiatan industri di negara Eropa dan Amerika berhenti. PT Timah mengambil kebijakan untuk mengurangi kegiatan produksinya.

Dengan  membaiknya harga timah dunia dari sisi produksi PT Timah Tbk masih memaksimalkan peningkatan produksi internalnya.

“Perusahaan masih menjalankan strategi operasi dengan tetap memaksimalkan peningkatan produksi internal dan juga mulai fokus pada penambangan primer,” tukas Purwoko

PT Timah Tbk (TINS) tahun 2021 menargetkan produksi di atas 50.000 ton, dengan penjualan sekitar 92% dari produksi. Angka produksi ini seiring dengan pertumbuhan konsumsi logam timah dunia pada tahun 2021 yang diprediksi naik 3,6% menjadi sebesar 353.900 ton dari 341.650 ton pada tahun 2020. 

Kenaikan haraga timah dunia diharapkan adanya peningkatan pendapatan TINS untuk tahun 2021. Proyeksi ini terutama karena adanya ekspektasi harga timah yang solid, penurunan utang yang berkelanjutan untuk memperkuat posisi neraca, serta inisiatif efisiensi biaya yang dilakukan PT Timah.

Selain itu, pengembangan proyek Ausmelt yang diharapkan akan mulai beroperasi pada awal 2022 dan proyek logam tanah jarang (rare earth project)  diharapkan bisa menyokong pendapatan jangka menengah hingga jangka panjang emiten BUMN ini.

Penjualan logam timah TINS hingga kuartal ketiga 2020 tercatat sebesar 45.548 ton atau turun 9,49% (yoy) dibandingkan penjualan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 50.326 ton. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan volume penjualan timah  PT Timah mencapai 55.000 ton pada tahun 2020, sementara penjualan timah di tahun ini cenderung flat, sekitar 55.000 ton. (wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL