Kasus Tipikor KMK BRI, Kejari Pangkalpinang Tetapkan Dua Tersangka

Kejaksaan Negeri Pangkalpinang menyampaikan perkembangan hasil penyidikan terhadap perkara dugaan penyimpangan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas pinjaman kredit modal kerja (KMK) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pangkalpinang, Rabu (3/2/2021).(hen/wb)
Kejaksaan Negeri Pangkalpinang menyampaikan perkembangan hasil penyidikan terhadap perkara dugaan penyimpangan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas pinjaman kredit modal kerja (KMK) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pangkalpinang, Rabu (3/2/2021).(hen/wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Kejaksaan Negeri Pangkalpinang menyampaikan perkembangan hasil penyidikan terhadap perkara dugaan penyimpangan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas pinjaman kredit modal kerja (KMK) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pangkalpinang, Rabu (3/2/2021).

Pemberian fasilitas pinjaman kredit modal kerja tersebut diberikan kepada CV Excelindo Putra Jaya pada tahun 2018  hingga 2020 dengan nilai sebesar 3,5 miliar. Perusahaan tersebut diketahui bergerak dalam hal jual beli perdagangan tandan buah segar (TBS).

Kasi Pidsus Kejari Pangkalpinang, Eddowan.S, menyebutkan dari hasil penyidikan telah dilakukan pemeriksaan saksi-saksi sebanyak 47 orang, baik itu dari pejabat kredit BRI dan pihak-pihak terkait, CV Excelindo maupun mitra-mitra dagang lainnya.

Sejauh ini, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 47 saksi dan juga telah dilakukan penyitaan terhadap dokumen kredit dan lain-lain yang terkait dengan fasilitas kredit tersebut. 

Dari hasil penyidikan tersebut, penyidik telah mendapatkan alat bukti petunjuk yang mana keterangan saksi bersesuaian dengan dokumen surat yang ada.

"Sehingga dari alat bukti yang sudah kita dapatkan tersebut dan dilakukan gelar perkara serta menetapkan dua orang tersangka dari pihak BRI berinisial MRA dan pihak CV Excelindo berinisial F," ungkap Eddowan kepada wartawan,  Rabu (3/2/2021).

Dalam perkembangannya dari hasil audit internal BRI, kata Eddowan, bahwa telah ditemukan nilai kerugian negera sebesar Rp 3,5 miliar. Selain itu, ada juga lima agunan yang telah diminta review penilaian oleh pihak BRI yaitu KJPP Ariati yang dari agunan tersebut terdapat selisih Rp 2,3 miliar.

"Artinya bahwa hasil penyidikan hari ini sudah melakukan penetapkan dua orang tersangka. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka yang lain dari hasil perkembangan penyidikan selanjutnya," tegasnya.

"Kemungkinan terhadap Direktur EPJ saudara F, rencana akan kita lakukan penahanan pada hari. Akan tetapi akan kita lakukan pengecekan kesehatan dulu," kata Eddowan.

Dari hasil penyidikan pihak penyidik, kata=Eddowan, ditemukan beberapa itikad yang tidak baik dari CV EPJ dalam memberikan sumber data seperti laporan keuangan yang tidak sesuai dengan kenyataannya, rekening koran juga tidak sesuai dengan kenyataannya dan sebelumnya telah dikonfirmasi dengan pihak-pihak terkait bank terkait

"Artinya sumber data tersebut itulah yang digunakan oleh saudara MR untuk melakukan analisa. Sumber datanya ini kenyataannya berdasarkan PPK BRI hasilnya itu tidak bermanfaat, artinya kreditnya itu dengan menggunakan laporan audit yang tidak sesuai dengan kenyataannya dan rekening koran," tukasnya.

"Untuk ancaman yang paling tinggi Pasal 2 itu maksimal 20 tahun. Untuk denda minimal Pasal 2 yaitu sebesar 200 juta atau paling banyak  Rp 1miliar rupiah," tukas Eddowan.(hen/wb)





TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL