Kolaborasi Maut Pengambisi, Pekedindil dan Pemimpin Lemah Bilung

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 12 Februari 2021 | 14:15 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh: Rusmin Sopian (Penulis Buku yang Tinggal di Toboali) 


Akhir-akhir ini kita sebagai rakyat, kerapkali melihat sepak terjang para kaum birokrat yang ambisinya untuk memegang jabatan sangat tinggi tanpa diiringi dengan prestasi kerja dan kompetensi diri. Kelompok birokrat yang dapat dikategorikan sebagai kelompok pengambisi di ubun-ubun ini tanpa lelah dan tanpa tahu malu, terus berjuang untuk meraih jabatan. 

Terkadang mereka membentuk tim sukses untuk memuluskan ambisinya. Bahkan terkadang cara-cara penjajah pun dipakai untuk meraih jabatan pada esselon II.

Bagi pengambisi diubun-ubun, jabatan adalah instrumen untuk mengeskalasi kehormatan dan martabat (dignity) diri dan keluarga. Mareka berasumsi dengan memegang jabatan mareka akan dihormati dan dicintai publik. Soal apakah dengan jabatannya tersebut mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat banyak, semua itu tidak ada dalam catatan kerja pengambisi di ubun-ubun. 

Demikian pula tentang apakah jabatan itu akan memberi manfaat bagi bangsa dan daerah, itu soal lain. Bagi kelompok birokrat pengambisi di ubun-ubun, yang kardinal adalah memegang jabatan esselon II.

Setali tiga uang dengan pengambisi di ubun-ubun, Pemimpin Daerah yang bertajuk 'lemah bilung' ( Bahasa Bangka :mudah terpengaruh) justru menganugerahi jabatan kepada bawahannya berdasarkan bisikan madu dari para pekedindil (orang yang berada di sekitar kekuasaan). 

Pemimpin lemah bilung memberi beban kerja bukan berdasarkan prestasi dan kompetensi sang bawahan dalam bekerja selama ini tapi berdasarkan insting pendengaran berbuih-buih bak madu dari sang bawahan dan kelompok pendukungnya. 

Nasihat Nabi bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya pun diabaikan pemimpin daerah. Kadangkala juga berdasarkan belas kasian dan rasa iba sang pemimpin kepada bawahannya.

Tak heran akibat kolaborasi maut antara pengambisi diubun-ubun, bisikan berbau madu dari para pekedindil dan pemimpin lemah bilung, berbagai program kerja pemimpin daerah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Program daerah tersendat karena sang bawahan tidak mampu mengaplikasikan visi dan misi pemerintahan mengingat bidang tugas sang pengemban amanah bukanlah keahlian sang bawahan.

Dan sebagai rakyat, sungguh kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari kolaborasi maut ini. Kita sebagai rakyat jangan pernah bermimi sedetik pun untuk meraih kemakmuran. bahkan bukan mustahil kolaborasi maut ini membawa keadaan yang tidak normal di masyarakat. 



MEDSOS WOWBABEL