Harga Timah Sudah 26.075 Dolar Per Ton, Kemungkinan Akan Naik Lagi

Tim_Wow    •    Senin, 22 Februari 2021 | 15:34 WIB
Ekonomi
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

PANGAKLPINANG,www.wowbabel.com -- Kenaikan harga timah dunia tak terbendung. Setelah sepekan tembus 25.000 per metrik ton, pada penutupan pasar Jumat (19/2/2021) pekan lalu, harga timah dunia di London Metal Exchange untuk kontrak tiga bulan mencapai AS$ 26.075 per metrik ton.

Harga timah dunia juga naik di pasar Shanghai Futures Exchange (SHFE) yang diperdagangkan pada Senin (22/2/2021)  sebesar 188.900 Yuan per ton. Keniakan harga untuk kontrak tiga bulan melonjak 3,75 persen menjadi AS$ 26.075 per metrik ton Jumat lalu di tengah kekhawatiran pasokan timah dan sentimen pasar yang positif.

“Semua logam dasar di Shanghai lebih tinggi pada Senin pagi karena dipicu oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan. Paket bantuan pemulihan ekonomi akibat Virus Corona yang diusulkan Presiden AS Joe Biden senilai AS$ 1,9 triliun akan membuahkan hasil,” tulis news.metal.com.

Di pasar LME harga sebagian besar logam lebih tinggi pada hari Jumat lalu. Tembaga melonjak 3,89 persen, nikel melonjak 2,32 persen, dan timah melonjak 3,75 persen, sedangkan aluminium merosot 0,23 persen dan seng turun 0,35 persen.

Kontrak timah SHFE melonjak 3,99 persen menjadi di 188.900 Yuan per metrik ton pada Jumat malam lalu. Kemungkinan harga timah akan bergerak antara 174.000-190.000 yuan.

Kenaikan harga timah menurut beberapa analis pasar karena permintaan  yang meningkat pesat dari perusahaan elektronik bersamaan dengan terganggunya pasokan dan pengiriman yag menyebabkan  persediaan yang menipis. Dalam waktu dekat kemungkinan akan mendoorng harga logam untuk solder yang  melonjak hingga lebih tertinggi lagi dalam sembilan tahun ini .

James Willoughby, analis di Asosiasi Timah Internasional, memperkirakan pasokan turun 8 persen menjadi 327.200 ton tahun lalu.

"Kami memahami produsen menjual stok sebanyak 10.000 ton, keadaan di pasar dengan defisit 5.000 ton," katanya dikutip dari hellenicshippingnews.com , Senin (22/2/2021).

“Dalam jangka pendek, kemungkinan besar harga tinggi akan bertahan. Kami melihat permintaan yang sangat tinggi dan masih ada masalah pasokan di pasar. Kami bisa melihat defisit 6.000 ton tahun ini," ujar James.

Keterbatasan pasokan timah tahun lalu sebagian besar disebabkan oleh turunnya produksi dariperusahaan produsen utama seperti PT Timah Tbk di Indonesia yang diperkirakan memproduksi kurang dari 50.000 ton tahun lalu. Padahal tahun 2019, perusahaan milik pemerintah ini  mamapu memproduksi lebih dari 76.000 ton.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL