Korupsi di Babel Mulai Dana APBD, Kredit Bank, SPPD Fiktif Hingga Kasus Timah

Tim_Wow    •    Jumat, 05 Maret 2021 | 16:27 WIB
Nasional
Caption: Diskusi publik Trend dan Modus Korupsi di Daerah secara virtual yang diselenggarakan oleh Wow Babel Institut, Jumat (5/3/2021).
Caption: Diskusi publik Trend dan Modus Korupsi di Daerah secara virtual yang diselenggarakan oleh Wow Babel Institut, Jumat (5/3/2021).

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Modus korupsi di daerah beragam, termasuk kasus korupsi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam anggaran belanja daerah dengan bentuk kasus kerugian negara. Adapun bentuk kerugian negara ini modusnya pengadaan barang dana jasa dengan merekayasa lelang bahkan modus rekayasa dokumen dalam kredit Bank.

“Tren korupsi sejak dulu yakni penyalahgunanan anggaran negara dan daerah yang dilakukan oleh kepala daerah disebabkan adanya biaya politik. Sesuai Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 bentuk korupsi yakni kerugian negara, suap menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi,” kata Assiten Tindak Pidadana Khusus Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung Ketut Winawa SH MH dalam diskusi publik Trend dan Modus Korupsi di Daerah secara virtual yang diselenggarakan oleh Wow Babel Institut, Jumat (5/3/2021).

Ketut menambahkan, bentuk korupsi di Kapulauan Bangka Belitung yang ditangani Kejaksaan Tinggi Babel hanya dalam bentuk korupsi pertama yakni  kerugian uang negara.

“Modus pertama itu pengadaan barang dan jasa (PBJ) yakni merekayasa pemenang lelang untuk mendapat proyek atau pekerjaan dalam hal ini sudah diatur siapa pemenangnya,” ujar Ketut.

Modus lainnya, kata Ketut, adanya penyalahgunanan di BUMN atau BUMD,  kerugian di perbankan dalam hal ini bentuk kerugian dengan memanipulasi dokumen dan mark up nilai agunan. Kemudian ada juga kasus pembelian barang dalam kasus di PT Timah yaitu pembelian timah yang dicampur trak di dalamnya sehingga menimbulkan kerugian negara. Kejati Babel juga menangani kasus perjalan dinas fiktif dan kasus makan minum yang dibuat mark up.

Dalam kasus korupsi kata Ketut, Kejati Babel tidak saja dalam hal penindakan, tapi juga melakukan upaya pencegahan yakni preentif dan refresif.

“Cara pencegahan preventif dan refresif dengan memperbaiki sistem yang transparan dalam institusi atau lembaga secara terbuka kepada masyarakat. Kemudian memperbaiki prilaku ASN, sering kejadian, ASN malas,” kata Ketut.

Sedangkan strategi pencegahan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Jangka pendek memberikan arahan dan edukasi, perbaikan sistem dan meningkat integritas dan moralitas untuk jangka panjang. Sedangkan tindakan refresif  bertujuan untuk memberikan efek jera. (al/wb)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL