Covid-19 dan Kudeta Militer Sebabkan Pasokan Timah dari Myanmar Turun Drastis

Tim_Wow    •    Rabu, 24 Maret 2021 | 14:27 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

LONDON, www.wowbabel.com -- Pasokan timah batangan ke China periode Januari-Februari 2021 menurun. Negara pengimpor sekaligus produsen timah terbesar di dunia ini hanya menyerap 24.000 ton timah atau turun 14% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Asosiasi Timah Internasional melaporkan penurunan impor timah ke China ini karena terhambatnya arus pasokan timah dari selruh dunia, terutama dari Mayamar sebagai importir timah terbesar China.

“Impor timah konsentrat ke China turun 14% karena peningkatan arus permintan dari seluruh dunia. Penurunan material dari Myanmar penyebab yang lebih signifikan,” tulis laporan ITA di internationaltin.org, Selasa (24/3/2021).

ITA dalam laporan yang diterima dari kantor resmi bea dan cukai China mengatakan China mengimpor sekitar 20.500 ton selama periode Januari-Februari. Hampir 17.000 ton bahan ini berasal dari Myanmar turun 27% dibandingkan tahun 2020.

Tidak saja turunnya impor timah dari Myanmar ke China, pada periode yang sama impor timah dari negara lainnpun turun.  Hanya saja Impor dari Congo (DRC), Australia, serta Bolivia cukup membantu arus masuk timah ke pasar sekitar 1.800 ton di bulan Februari. 

“Ini mengikuti arus masuk 1.650 ton di bulan Januari. Dibandingkan tahun 2020, impor dari negara-negara selain Myanmar justru naik 126%,” tulis ITA.

Menurut ITA, impor timah dari Myanmar selama Januari-Februari berada di bawah tekanan akibat  tiga faktor, yakni  dampak pandemi COVID-19 di negara itu, liburan Festival Musim Semi, dan kekacauan politik akibat kudeta militer.

Pada bulan Januari, pengiriman konsentrat timah melalui kota perbatasan Menglian di Myanmar terhenti selama dua minggu karena COVID-19 di area pertambangan utama di negara tersebut. Transportasi selanjutnya ditangguhkan selama 10 hari selama liburan Festival Musim Semi di bulan Februari. Selain itu, kekacauan politik menyebabkan penutupan sementara kota perbatasan Ruili.

“Kedua kota perbatasan kini telah dibuka kembali. Kami perkirakan pengiriman timah dari Myanmar akan kembali menjadi sekitar 3.500 ton (kandungan logam) di bulan Maret. Jadi kami masih memperkirakan penurunan kecil setiap tahunnya,” ujar ITA. 

ITA berpendapat harga timah yang tinggi kemungkinan akan mendorong lebih banyak produksi bijih kadar rendah dan  tidak mengharapkan gangguan lebih lanjut pada pasokan karena situasi politik di Myanmar yang sedang berlangsung.(wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE