Letjen TNI Doni Monardo Jatuh Cinta Kepada Sagu Bangka

Tim_Wow    •    Rabu, 24 Maret 2021 | 17:12 WIB
Opini
Letjen TNI Doni Monardo bersama Iwan Piliang saat memancing di Perairan Pulau Semujur  Bangka.(ist)
Letjen TNI Doni Monardo bersama Iwan Piliang saat memancing di Perairan Pulau Semujur Bangka.(ist)


Oleh: Iwan Piliang, Content Director for PR


Pesawat Hercules C-130 milik TNI AU, Jumat (19/3/2021) pagi, baru saja hendak lepas landas dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung dengan tujuan Bandar Lampung. Dari jendela pesawat, saya simak langit biru, perkiraan jarak pandang  lebih dari 10 kilometer.

Letjen TNI Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB), baru saja duduk, memegang gadget, membaca  pesan, tak lama,  berdiri dan membalikkan badan.

"Saya barusan mendapatkan kabar, bahwa WHO  belum bisa memastikan kapan Covid-19 ini akan berakhir?"

Sebagai figur dipercayakan negara memimpin penanggulangan bencana, tentulah ia dapat berkomunikasi dengan badan kesehatan dunia itu. 

Mendengar  kalimatnya, beberapa  sosok  di kabin utama itu diam.  Gelegar  mesin, propeler berputar mendenging,  lepas landas menjelang.  Ada Indra Gunawan, Sesditjen Bina Adwil Kemandagri; Faisal, Direktur Pertahanan Keamanan, BPKP; juga ada Egy Masadiah, Tenaga Ahli Ka BNPB - - banyak menulis konten feature tentang Doni, dan penanggulangan bencana, sudah pula dibukukan.

Saya tak ingat siapa dari nama-nama di atas  berkomentar duluan. Namun kata, "Waduhhh," seakan bersamaan terucap oleh kami. Begitu mengangkasa, kian tinggi,  saya melihat bayangan badan utuh pesawat  bergerak maju di antara hijaunya daratan. Bila momen itu direkam, teringat akan karya seorang videografer Eropa, mendapatkan banyak like di Instagram.

Sebagaimana lazimnya pesawat baru mengangkasa, masing-masing penumpang bergumam dengan hati dan pikirannya sendiri. Sebelum kemudian ada membuka kata  memecah keheningan.

"Saya bersemangat bekerja  bareng  Pak Doni, orangnya tulus, ikhlas," kata Faisal, BPKP, duduk semeja di sebelah saya.

"Ia melibatkan lintas kementerian, lembaga, dan daerah, harmonis, seperti rapat koordinasi di dua Propinsi Pontianak dan Bangka, kemarin sudah kita lalui," ujarnya.

Pemimpin memang menggerakkan, memotivasi. Dari saya amati perjalanan bersama Kepala BNPB ini, di setiap memaparkan sesuatu, dalam penyampaiannya  selalu memberikan kesempatan berbicara kepada rombongan.

"Silakan Pak Indra dari Kemendagri, " ujarnya pula, "Nanti dilanjutkan dari BPKP, Mabes TNI, Mabes Polri dan seterusnya." Tampaknya wakil instansi terkait Satgas Nasional Covid-19 semacam wajib bicara.  Dari Mabes TNI, dokter Didi  dan dari Polri yakni Endi Sutendi, keduanya bintang satu.

Ketika di luar agenda resmi di Pangkalpinang, Doni, Kamis  (18/3/2021) siang sempat meninjau pabrik sagu.  Pabrik itu sudah mampu mengolah sagu menjadi mie. Usai meninjau pabrik pengolahan, mulai dari pemotongan sagu, merendam penggalan ke dalam kolam air, panjang setinggi pinggang dewasa, hingga digiling dan diproses ke ban berjalan,  lalu menjadi  mie instan siap santap.

"Kalau kita buka lembaran sejarah, tak ada ditemukan prasasti tentang padi"

"Yang ada, sagu, sukun,  bukan begitu Pak Iwan?"  Doni melihat ke saya.

Spontan disebut nama,  saya menjawab sigap: seratus persen akurat pak.

Begitulah Doni. 

Saya berani menyebut angka 100 persen,  karena  tahun  lalu, Yudi Prabangkara, Asdep Infrastruktur dan Pertambangan Kemenko Maritim dan Investasi, bekunjung ke Bangka Selatan, meninjau proyek pelabuhan  dan Kawasan Industri Sadai,  mengatakan bahwa tanaman rerumputan bernama padi itu, bukan asli Nusantara. "Beras makanan raja-raja," katanya menuturkan. 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL