Dunia Berburu LTJ, di Bangka Belitung Dijual Murah, Pantas Luhut Marah

Tim_Wow    •    Senin, 05 April 2021 | 19:40 WIB
Nasional
Sebanyak delapan kontainer yang berisi kurang lebih 200 ton mineral ikutan Pasir Zirkon yang rencananya akan dikirim ke China terancam batal diekspor. (fn/wb)
Sebanyak delapan kontainer yang berisi kurang lebih 200 ton mineral ikutan Pasir Zirkon yang rencananya akan dikirim ke China terancam batal diekspor. (fn/wb)


Oleh: Albana (Wartawan Senior Babel)


Akhir Maret 2021 lalu, Menteri Koordinator (Menko)  Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengintruksikan kepada penegakan hukum untuk memberantas penyelundupan tin slag di Bangka Belitung.

Tak terkecuali, Luhut meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan memberantas penyelundupan tin slag dan mineral lainnya dari proses penambangan timah di Bangka Belitung.

Penegasan Luhut ini disampikan langsung kepada Gubernur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman dalam webinar. Luhut menjelaskan Indonesia menduduki peringkat kedua persentase cadangan timah terbesar di dunia.

Dan monasit sebagai mineral ikutan bijih timah yang dikenal dengan Logam Tanah Jarang (LTJ) dapat dikelola menjadi komoditas bernilai tinggi karena bermanfaat besar untuk  industri pertahanan, magnet, baterai, kesehatan dan advance material.

Pemanfaatan limbah timah mengandung unsur LTJ yang mahal itu masih dihargai dengan murah di Bangka Belitung, tak terkecuali di Indonesia.  Harga penjualan di Babel berkisar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram.

“Bayangkan harga di internasional, setelah proses pengolahan sekitar 1.000 USD per kilogram. Oleh karena itu, saya minta kita jangan ekspor langsung tapi diolah terlebih dahulu di dalam negeri," jelasnya.

Sepekan setelah Luhut menyampaikan instruksinya, pada Minggu 4 April 2021, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) terjun ke Bangka Belitung.

Tim yang dipimpin langsung oleh Ridwan Djamaludin Dirjen Minerba ini menahan 200 ton zirkon yang siap diekspor dari Pelabuhan Pangkalbalam ke China. Tujuan tim ini ingin memeriksa apakah masih ada kandungan LTJ dari 200 ton Zircon yang akan diekspor itu.

Seperti yang diungkapkan Luhut, mineral ikutan yang masih memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan menjadi mineral buruan negara maju itu dijual dengan murah di Bangka Belitung. Bahkan diekspor secara resmi hingga melalui jalur ilegal seperti penyelundupan. Bahkan jika ada oknum penegak hukum yang terlibat, Luhut meminta ditindak tegas.

Wajar jika Luhut memberi intruksi bahkan marah terhadap ‘harta karun’ berupa mineral tanah jarang atau LTJ itu.  Beberapa negara di dunia saat ini  sedang berlomba untuk mengamankan elemen tanah jarang yang sangat penting untuk kepentingan industri pertahanan seperti pembuatan jet tempur, turbin angin, dan mobil listrik. Perlombaan global memburu dan mempertahankan LTJ terutama oleh Amerika Serikat dan Inggris karena kekhawatiran bahwa China dapat monopolinya.

Badan-badan keamanan dunia khawatir akan ada peningkatan persaingan untuk sumber daya alam yang langka ini karena  kontrol pasokan oleh China dapat digunakan sebagai pengungkit dalam setiap perselisihan perang dagang global.

David Merriman, ahli tanah jarang di Roskill sebagaimana dikutip dari CNBC, mengatakan pada 2020, tambang China menghasilkan 110.000 ton logam tanah jarang, lebih dari 55% dari total hasil pertambangan global.

Meskipun diperkirakan sedikit penurunan produksi menjadi sekitar 100.000 ton pada 2022, produksi dari China diperkirakan akan relatif stabil  hingga akhir dekade ini.

Menurut Merriman produksi tanah jarang dalam Negeri China mulai 2022 dan seterusnya melihat permintaan bahan baku dari beberapa pengolah tanah jarang terkemuka yang berbasis di China semakin dipenuhi oleh konsentrat mineral impor.

China memproduksi 85% produk penyulingan logam tanah jarang pada 2020, tetapi dengan penurunan produksi domestik China, impor logam tanah jarang ke China diperkirakan akan tumbuh menjadi 80.000 ton per tahun pada 2030, naik dari perkiraan 60.000 ton pada 2021.

China tidak hanya mendominasi pasokan logam tanah jarang, tetapi juga 70% produksi global dikonsumsi di pasar domestik China. Logam tanah jarang merupakan sekelompok elemen yang secara kimiawi serupa juga digunakan secara luas di industri dirgantara, peralatan militer, dan elektronik konsumen, hingga kendaraan listrik.

Mineral masa depan ini di Indoensia begitu murahnya karena Indonesia bukanlah pemain utama di pasar LTJ global karena  belum ditemukannya cadangan yang terbukti secara geologis dengan harga yang ekonomis untuk ditambang.

Meskipun demikian Indonesia memiliki potensi akan sumber daya ini, hanya saja pemerintah dan pemangku kebijakan sepertinya masih belum serius dalam mengerahkan seluruh tenaga untuk memproduksi sendiri LTJ.

Dengan langkah mengamankan 200 ton zirkon di Pelabuhan Pangkalbalam oleh Ditjen Minerba, sebuah upaya memulai penyelamatan terhadap ‘harta karun’ yang bernilai tinggi itu di masa depan.(*)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL