Sawit dan Nuklir Masuk Prioritas Riset Energi Baru Terbarukan Indonesia

Tim_Wow    •    Rabu, 21 April 2021 | 10:27 WIB
Nasional
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro.(ist)
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro.(ist)

JAKARTA, wowbabel.com --Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional telah mencanangkan beberapa kegiatan terkait energi baru dan terbarukan di dalam prioritas riset nasional 2020-2024.   

Target akhirnya pada 2024 Kementerian Ristek sudah mendapatkan peningkatan dari energi baru terbarukan dalam energi mix nasional.

Ada lima kegiatan utama sebagai prioritas riset nasional  yang dilakukan Kemenristek  terkait dengan energi baru dan terbarukan. Mulai dari bahan bakar nabati dari kelapa sawit hingga riset sumber energi terbaharukan berbahan nuklir.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro memaparkan kelima prioritas riset nasional saat memberikan keterangan pers Jakarta, Selasa (20/4/2021) usai mengikuti Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Menristek memaparkan pertama, bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit. Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar baik bensin, diesel, avtur, 100 persen berasal dari bahan baku kelapa sawit. 

"Saat ini dengan menggunakan katalis yang dikembangkan di ITB kita sudah melakukan uji coba di kilang Pertamina sehingga harapannya tidak lama lagi kita bisa masuk pada skala produksi. Tujuan akhirnya adalah untuk bisa kita mengurangi impor dari BBM itu sendiri," jelasnya.

Kedua, biogas yang banyak dipakai terutama perkebunan sawit. Biogas ini akan menjadi alternatif yang terbaik untuk penyediaan listrik di tempat-tempat relatif terpencil. 

Teknologinya sudah dikembangkan di beberapa tempat dan harapannya bisa dipakai secara luas.

Ketiga, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil.  Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kandungan panas bumi terbesar di dunia. Pemanfaatan panas bumi tersebut masih belum maksimal. Kendalanya adalah nilai investasi yang sangat mahal pada pembangkit dengan skala yang besar.

"Oleh karena itu kami mengembangkan PLTP skala kecil yang mudah-mudahan bisa dikembangkan di berbagai daerah yang punya kandungan panas bumi sehingga listrik yang dihasilkan akan bermanfaat bagi daerah sekitarnya," imbuhnya.

Keempat, baterai listrik. Indonesia tengah mengembangkan baterai litium dan teknologi  fast charging untuk keperluan kendaraan listrik, juga teknologi battery swapping. 

Menristek berharap teknologi tersebut sudah siap dipakai dan dikembangkan ketika kendaraan listrik sudah mulai dipromosikan. 

"Dengan teknologi seperti itu kita harapkan nantinya ketika kendaraan listrik mulai dipromosikan sebagai komitmen kita mengurangi emisi maka teknologi itu sudah siap pakai dan bisa dikembangkan di Indonesia," katanya.

Kelima, pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir. Menristek memandang, bagaimanapun Indonesia harus memastikan listrik yang memadai ketika Indonesia ekonominya semakin tumbuh ke depannya.

"Untuk memastikan listrik memadai tentunya kita pada satu sisi kita harus comply pada Paris Agreement. Bagaimanapun kesiapan teknologi nuklir harus terus dijaga, terutama dari unsur keselamatannya baik lokasi maupun teknologi yang menjamin keselamatan dari teknologi nuklir tersebut," jelasnya. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL