Setelah Pimpin Kenaikan Harga Logam, Timah Dunia Mulai Turun

Tim_Wow    •    Senin, 17 Mei 2021 | 10:06 WIB
Nasional
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

PANGKALPINANG, wowbabel.com -- Harga timah dunia yang melejit jelang lebaran 2021 perlahan mulai turun. Pada penutupan pasar akhir pekan lalu, harga timah untuk kontrak tiga bulan sudah berada di bawah USS 30.000 per metrik ton.

Padahal sepekan menjelang lebaran harga timah dunia mencapai rekor. The Wall Street Juornal melaporkan permintaan yang tinggi untuk konsumen barang elektronik  dan kesulitan pengiriman logam ke luar Asia telah mengakibatkan kekurangan timah. Akibatnya mendorong harga logam mendekati rekor untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Di London Metal Exchange (LME),  harga timah yang akan dikirim dalam tiga bulan telah melonjak 46% tahun ini menjadi USD 29.785. Bahkan mencapai USD 30.750  per metrik ton pada pekan kedua Mei 2021. Harga timah melebihi logam lain seperti tembaga dan aluminium. 

Rekor harga tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Timah pernah dijual pada puncak kenaikan di pasar logam pada tahun 2011, ketika harga mencapai lebih dari USD 33.000 per ton. Kedigdayaan harga tinah ini kemudian mulai turun.

Shanghai Metal Market (SMM) peka dalam laporan penutupan pasar akhri pekan mencatat, harga timah di LME ditutup turun 2,12% pada  USD 29.280 per metrik ton.  Penuruan harga timah setelah perusahaan tambang timah di  Afrika mengumumkan studi kelayakan proyek Eus-nya, dan laporan penelitian menegaskan bahwa kapasitas konsentrator tahap pertama dapat ditingkatkan dari 720 ton konsentrat timah menjadi 1.200 mt per tahun.

Harga timah juga dipengaruhi  dolar AS bertahan stabil setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan bahwa indeks harga produsen (PPI) pada bulan April lebih kuat dari yang diharapkan, membuktikan bahwa inflasi di AS sedang memanas. 

"Dengan tingginya harga timah, akhir-akhir ini pasokan timah meningkat sehingga mengurangi situasi pasokan yang ketat. Setelah kenaikan terus menerus pada periode sebelumnya, permintaan timah LME memiliki permintaan penyesuaian, yang diperkirakan akan diperdagangkan di bawah tekanan dalam waktu dekat," tulis analisi SMM yang dikutip di newsmetal.com. 

Kontrak timah mulai melemah juga terjadi di pasar logam Shanghai Futures Exchange (SHFE) yang  turun 1,67% menjadi  192.280 yuan per ton.

"Kontrak tersebut diperkirakan akan terus berfluktuasi lemah dalam waktu dekat," ujar analis SMM.

Sepekan sebelumnya perusahaan tambang timah Indonesia mengumumkan bahwa produksi timah olahan pada kuartal pertama turun 63,1% YoY, sementara  Kementerian Perdagangan Indonesia mengumumkan bahwa Indonesia mengekspor 7.007,29 metrik ton  timah olahan pada bulan April, naik 66% YoY dan 16% bulan ke bulan. Pengumuman ini pun mempengaruhi harga timah dunia.

Harga timah dunia yang tinggi turut mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan penambangan timah dunia. Seperti halnya PT Timah Tbk asal Indonesia dan Malaysia Smelting Corps (MSC) Bhd dari Malaysia.  Pada kurtal pertama 2021, kedua perusahaan ini melaporkan labanya setelah sempat merugi tahun sebelumnya.

PT Timah Tbk (TINS) berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 10,34 miliar di kuartal pertama 2021. Realisasi ini berbanding terbalik dari kerugian bersih Rp 412,85 miliar di kuartal pertama 2020.  

Sedangkan Malaysia Smelting Corp Bhd  mencatat  laba bersih sebesar RM 22,12 juta pada kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2021 (1QFY21) setelah menderita  kerugian bersih sebesar RM13,19 juta setahun sebelumnya.  

"Pendapatan kuartalan meningkat sepertiga menjadi RM275,91 juta dari RM205,31 juta tahun lalu, berkat penjualan timah olahan yang lebih tinggi dan harga timah rata-rata yang lebih menguntungkan," ujar Pattrick Yong CEO gruop MSC dikutip dari edge.market.com. (*)




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL