MSC Tingkatkan Produksi Mumpung Harga Timah Lagi Tinggi

Tim_Wow    •    Kamis, 03 Juni 2021 | 07:01 WIB
Ekonomi
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Lonjakan harga timah dunia menjadi pertanda baik bagi perusahaan produsen komoditas logam tertua ini . Sejak 6 Mei 2021, harga spot timah di London Metal Exchange (LME) mecapai rekor tertinggi USD 33.825 per metrik ton. Sedangkan untuk kontrak  tiga bulan harga timah sudah berada USD 31.135 per metrik ton rekor  tertinggi 10 tahun terakhir.

Malaysia Smelting Corp Bhd (MSC) perusahaan rafinasi timah terbesar ketiga dunia menyiapkan langkah untuk mengejar produksinya memanfaatkan kenaikan harga timah untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan dengan peningkatan profitabilitas di kedua pisi penambangan dan peleburan timah MSC.

CEO Grup  MSC Datuk Dr Patrick Yong mengatakan profitabilitas pisi penambangan timah ke depan akan didorong oleh dua faktor;  volume produksi yang lebih tinggi dan harga timah yang lebih tinggi. 

Di Tambang Timah Hidraulik Rahman milik MSC,  telah memperkenalkan metode penambangan dan pemrosesan baru untuk meningkatkan produktivitas. Hasilnya,  telah meningkatkan produksi tambang menjadi 11 ton per hari pada kuartal pertama tahun 2021 (1Q2021), dari rata-rata 9,5 ton per hari pada tahun 2020.

“Kami berharap dapat meningkatkan produksi secara bertahap hingga mencapai 12 ton per hari pada akhir tahun 2021. Di sisi peleburan kami, kami memperoleh keuntungan dari potensi peningkatan kebutuhan peleburan bijih karena kenaikan harga timah,” kata Yong kepada The Edge, Selasa (1/6/2021).

"Harga timah yang tinggi menguntungkan segmen peleburan MSC karena akan mendorong lebih banyak tambang untuk meningkatkan pasokan konsentrat timah, yang menguntungkan bisnis peleburan timah kami,” ujarnya.

Awal bulan ini, Reuters melaporkan MSC telah memberi tahu kliennya bahwa pisi peleburannya "sangat terpengaruh oleh pandemi Covid-19 dan akan memakan waktu sembilan bulan untuk melanjutkan produksi normal". 

Laporan itu didasarkan pada surat tertanggal 26 April yang dilihat oleh kantor berita. Yong mengakui gangguan pandemi terhadap operasi peleburan MSC. Pembatasan pergerakan juga berdampak pada jadwal relokasi operasi peleburannya dari pabrik Butterworth ke pabrik baru di Pulau Indah, Klang. 

Timah mengalami lonjakan permintaan sejak paruh kedua tahun lalu, yang menyebabkan sebagian besar smelter harus menghadapi keterbatasan pesanan karena kegiatan peleburan terganggu oleh pembatasan dan penguncian di banyak negara pada paruh pertama tahun 2020 akibat lonjakan kasus Covid -19. 

Analis pasar International Tin Association (ITA) James Willoughby mengaitkan kembalinya permintaan pada paruh kedua tahun lalu dengan tren bekerja dari rumah yang meningkatkan konsumsi timah untuk industri elektronik. 

Memasuki tahun 2021 permintaan akan timah tetap tinggi sejalan dengan perbaikan ekonomi beberapa negara.

“Kombinasi dari produksi yang rendah dan permintaan yang meningkat membuat harga naik secara signifikan. Tahun ini, permintaan melanjutkan trennya lebih tinggi. Kami telah melihat pemulihan di sebagian besar pasar pengguna timah, sementara beberapa pabrik peleburan terus mengalami masalah dengan produksi mereka,” kata Willoughby yang dikutip dari internationaltin.org beberapa waktu lalu.

Hingga Mei 2021, pasokan timah dunia masih tersendat setelah China produsen timah terbesar membatasi penggunaan listrik ke pabrik peleburan timah di Provinsi Yunnan. Kondisi pasokan timah juga terganggu pada akhir Mei dampak letusan gunung berapi di perbatasan Republik Demokratik Kongo. (*)

 



MEDSOS WOWBABEL