Pesona Petani Kecil di Era Milenial

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 04 Juni 2021 | 11:47 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh: Iskandar Zulkarnain (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung) 


Apakah masih ada petani kecil di negeri ini? Membaca karya Jan Douwe van der Ploeg dalam The New Peasantries Struggle for Autonomy and Sustainability in an Era of Empire and Globalization (Ploeg, 2008), terasa seperti menempatkan petani kecil berada di dua ranah yang saling kontradiksi, antara perdebatan yang menghadap-hadapkan petani kecil dengan negara, industri, dan pasar sebagai representasi dari empire pada satu sisi, dan di sisi lain menempatkan posisi dan peran penting petani kecil sebagai agensi yang terus diperhitungkan di era globalisasi adalah suatu kenyataan yang masih sangat langka. 

Dengan menyitir Greg Soetomo (1999), bukankah sejarah petani adalah sejarah kaum yang kalah? Tulisan ini hendak mengungkap rasa optimis bahwa di abad milenial ini akan manjadi abad kebangkitan petani kecil yang “tidak akan pernah kehilangan pesonanya” berjuang merebut kesejahteraan. Dengan cara apa petani kecil dapat mewujudkan cita-citanya yang mulia?

Gagasan van der Ploeg

Jan Douwe van der Ploeg adalah Profesor Studi Transisi di Wageningen University Belanda dan penasehat Menteri Pertanian Italia. Ia melakukan studi longitudinal di tiga negara yang berbeda, yaitu Peru, Italia dan Belanda. Argumen besarnya bertumpu pada tiga hal pokok yakni perjuangan petani untuk mencapai otonomi,  dominasi negara-pasar (empire) di era globalisasi, dan repesantization. Pertama, perjuangan untuk mencapai otonomi. Van der Ploeg bermaksud membedakan batas-batas antara petani, petani agribisnis (kewirausahaan) dan pertanian skala besar (korporasi kapitalis). Akan tetapi, semakin ia bergelut menentukan batas-batas pembeda antara ketiganya justru batasan tersebut kian tidak jelas. 

Petani ternyata semakin terlibat secara intens dan bergerak ke arah peningkatan produksi hasil pertanian yang berorientasi pasar dan agribisnis. Asumsi yang mendasari perubahan orientasi itu terletak pada dorongan untuk memperluas skala operasi lahan garapan dan jika telah terpenuhi dapat membentuk semacam perusahaan. Rasionalitas petani yang mengarah pada petani agribisnis menandakan bahwa mulai terjadi proses-proses transformasi menuju terbentuknya pedesaan kontemporer. Menurut Ploeg, terdapat tiga kunci yang menentukan terjadinya proses pembentukan pedesaan kontemporer, yaitu industrialisasi pertanian; repeasantization (petani defensif), atau menjadi petani otonom yang berorientasi menghasilkan produk secara subsisten.  Pilihan terakhir, menurut van der Ploeg merupakan pilihan yang cermat.

Alasan utama menentukan pilihan untuk menjadi petani kecil yang otonom tentu tidak terlepas dari sejarah petani kecil masa lampau. Semenjak era kolonialis sampai era industrial saat ini, petani kecil tetap eksis. Mereka adalah petani dengan penguasaan lahan kecil, berproduksi secara terbatas, namun lebih mandiri. Mereka menanami lahan dengan sangat intensif, dengan menanam beberapa tanaman dalam satu lahan secara bersamaan (multicropping). Selain itu, mereka juga memberdayakan lahan dengan menanam bahkan sebelum satu jenis tanaman dipanen (intercropping). Ciri lainnya adalah mereka lebih mengandalkan kepada tenaga kerja sendiri, dan mereka terjun langsung dengan tangan dan tenaganya sendiri mengolah tanah, mencabut rumput, menyebar pupuk sampai memanen hasilnya.

Apa yang membedakan antara petani sebagai peasant dan farmer? Peasant adalah petani yang selalu menggantungkan kehidupan kepada alam secara subsisten, sedangkan farmer adalah petani yang menerapkan teknologi modern dalam mengelola pertaniannya yang sesuai dengan tuntutan agribisnis. Upaya mengubah petani dari karakter peasant menjadi farmer itulah hakekat dari pembangunan atau modernisasi. Padahal petani yang berkarakter peasant adalah yang menggerakkan pertanian. Karakter peasant ini menurut van der Ploeg (Ploeg, 2008) memenuhi prinsip-prinsip dasar petani kecil, yaitu kelekatan antarelemen yakni menguasai sumber daya alam sendiri, memproduksi secara bersama, berinteraksi antara manusia dan alam, hubungan kerja sama yang memungkinkan petani kecil untuk menjauhkan diri dari hubungan moneter dan pertukaran pasar, perjuangan untuk mencapai otonomi bertujuan untuk mengurangi ketergantungan dan aliansi pertanian yang lebih menguntungkan kepentingan produsen kapitalis. Petani kecil adalah locus yang memberi ruang saling menghargai heterogenitas yang luar biasa. Prinsip dasar inilah lanjut Ploeg yang menjadikan “kesenjangan besar antara pertanian kapitalis (skala besar, luas) terhadap pertanian petani (skala kecil, intensif)”. 

Dari ketiga studi kasus longitudinal yang dilakukan van der Ploeg, kasus yang terjadi di Catacaos di Utara Pantai Peru dapat menjelaskan bagaimana perjuangan untuk mencapai otonomi petani kecil. Dalam kasus Peru, tahun 1970-an merupakan tonggak reformasi agraria dengan mengubah pemanfataan lahan perkebunan kapas skala besar menjadi peternakan yang dikelola petani kecil ke dalam bentuk koperasi. Perubahan itu secara dramatis meningkatkan ekuitas pemilikan tanah, pertumbuhan di daerah perdesaan, peningkatan pendapatan dan hasil, dan ditulis oleh Ploeg sebagai “proses intensifikasi kerja yang mendorong perubahan" (Ploeg, 2008). 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL