Saat Dunia Berburu Timah yang Kian Kritis

Abeng    •    Selasa, 15 Juni 2021 | 13:17 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh: Albana (Wartawan Senior Babel)


Perusahaan penambangan timah dari berbagai negara mengejar eksplorasi dan produksi guna memasok logam timah  di pasar dunia yang kian kritis. Langkah beberapa perusahaan ini memanfaatkan kondisi pasar yang kekuarangan pasokan sehingga harga timah terus naik. 

Harga timah kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,32%  berakhir pada US$31.725 per metrik ton dalam perdagangan  kemarin. Harga mencapai rekor tertinggi dalam sepuluh tahun, dengan bunga terbuka turun 5 lot menjadi 12.216 lot. 

Analis Fastmarket  mencatat logam timah berkinerja terbaik di London Metal Exchange pada 8 Juni karena situasi pasokan global yang terbatas.

Dia menambahkan, puncak baru harga timah untuk kontrak tiga bulan tahun 2021 di LME  adalah reaksi dari pasar yang sudah sangat kekurangan pasokan terhadap berita bahwa produsen terbesar ketiganya,  MSC, menyatakan force majeure pada pengiriman barang sejak 4 Juni 2021.

Lonjakan harga ini sempat memancing reaksi pemerintah China sebagai produsen timah terbesar dunia. Lonjakan harga timah dan logam telah mendorong inflasi beberapa negara sehingga harga harus dikendalikan. Untuk itulah berdasarkan laporan Reuters pada April 2021 lalu, China mulai mengekspor logam timahnya ke konsumen dunia.

Situasi kekuarangan pasokan ini menarik perusahaan penambangan untuk menggarap tambang timah mereka. Perusahaan penambangan Afritin yang terdaftar di AIM  yang mengoperasikan tambang Uis di Namibia melaporkan jika perusahaan  mereka hingga akhir Mei 2021 sudah  mengalahkan produksi kuartalannya selama tiga bulan dan memulai proyek ekspansi Fase Satunya.

Menurut CEO Anthony Viljoen, fase ekspansi ini juga akan membuka potensi produk sampingan lithium dan tantalum yang signifikan dan menarik yang kami miliki di seluruh basis sumber daya kami yang luas.

 Afritin juga telah menyetujui studi kelayakan definitif untuk perluasan Tahap 1 Tahap 2 yang berpotensi menghasilkan peningkatan 67% dalam produksi konsentrat timah melalui perluasan modular dari pabrik pengolahan Tahap 1 Tahap 1 saat ini.

Afritin memproduksi 183 ton konsentrat yang mengandung 114 ton logam timah selama tiga bulan melebihi target produksi 180 ton konsentrat. 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL