Dilema Aktivitas Pembelajaran Selama Pandemi Covid-19

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 02 Juli 2021 | 21:50 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)

Oleh: Aris Destriadi, Mahasiswa Universitas Pamulang 


Pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Pada bulan Maret 2020, pemerintah Indonesia resmi mengumumkan adanya warga yang terpapar Covid-19, yakni di Depok, Provinsi Banten. 

Virus ini dikabarkan berasal dari Wulan, Tiongkok yang muncul di akhir Tahun 2019. Sangat berbahaya bagi seseorang yang mengidap penyakit penyerta seperti paru-paru, jantung, ginjal serta penyakit dalam lainnya. 

Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak di bidang ekonomi saja, bidang pendidikan juga terimbas. Kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan tanpa tatap muka atau daring (dalam Jaringan--red) atau BDR (Belajar Dari Rumah--red). 

Ketika kegiatan ini harus dilakukan dengan sistem online atau daring atau BDR maka ada perasaan dilema tersendiri bagi orang-orang yang menjalankannya, bagi para siswa, guru, terutama bagi orang tua yang harus mendampingi anak-anaknya belajar. 

Terlebih lagi orang tua yang memiliki lebih dari satu orang anak. Tak jarang orangtua banyak yang mengeluh dan merasa kewalahan akan pembelajaran daring atau online atau BDR. 

Anak-anak tentunya juga membutuhkan pendampingan dalam belajar, mereka harus melaksanakan berbagai macam tugas yang harus dikumpulkan dalam waktu yang telah ditentukan.

Guru ketika dalam pembelajaran daring atau online atau BDR ini juga mempunyai dilema tersendiri, seperti sulitnya mengukur hasil atau pencapaian pembelajaran lantaran antara materi yang satu dengan yang lainnya bahkan terkadang ada diantara para peserta didik tidak mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan. 

Jika pun ada yang menyelesaikan tugas pastinya sulit untuk memastikan apakah itu hasil kerjaan anak atau hasil kerja orang lain. Selain dilemma, permasalahan lain yang muncul tidak hanya yang ada pada sistem media pembelajaran melainkan ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya untuk siswa dan guru guna memfasilitasi proses pembelajaran online atau daring atau BDR. 

Kuota yang dibutuhkan untuk fasilitas internet melonjak tinggi dan banyak diantara orang tua mahasiswa yang tidak sanggup untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Hal ini pun menjadi masalah serius dan sangat penting bagi siswa, sedangkan para orang tua mereka yang berpenghasilan rendah atau dari kalangan menengah ke bawah pun seakan menjadi beban baru yang berat. 

Persoalan lain juga muncul seperti kuat atau tidaknya jaringan internet yang tersedia. Bahkan jika kita mendengar berita di televisi ada siswa harus berkumpul di satu titik yang jauh dari rumahnya demi mendapatkan sinyal yang bagus untuk kelancaran proses pembelajaran. 

Disisi lain ada juga sekolah yang menerapkan aturan tidak boleh bagi para peserta didik laki-laki berambut panjang/gondrong. Nah selama masa pandemi Covid-19 ini, jika sesekali para guru melakukan kegiatan zoom meeting atau google meeting, terlihat sekali ada beberapa para peserta didik laki-laki yang terlihat rambutnya panjang atau gondrong. Pembelajaran online atau daring atau BDR ini juga telah mengikis sedikit tentang kedisiplinan para peserta didik laki-laki tentang aturan sekolah yang harusnya tetap mereka patuhi walaupun pembelajaran tidak berlangsung secara tatap muka.(*) 




TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL