Harga Timah Melejit Akibat Kelangkaan Pasokan yang Parah

Tim_Wow    •    Jumat, 09 Juli 2021 | 12:14 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Logam timah selama ini tidak mendominasi di pasar logam dunia.  Namun paruh pertama tahun 2021,  logam timah mengungguli semua jenis logam yang dipasarkan. Harga timah di London Metal Exchange (LME) mencapai level tertinggi dalam satu dekade, yakni US$33.181 per metrik ton pada Juni.

Harga timah melejit akibat pasar mengalami kekurangan pasokan sehingga tidak bisa mengimbangi permintaan.

Logam timah  di LME diperdagangkan US$31.800, naik 51% di awal tahun menempatkan timah sebagai logam dengan kinerja terbaik. Aluminium yang naik 25%  menempati kinerja terbaik kedua disusul tembaga.

Harga timah tunai LME terus mencapai premi US$1.000 per ton di atas harga kontrak tiga bulan, mencerminkan persediaan yang rendah.

Fastmarkets menilai, pengguna timah fisik harus membayar lebih, hingga US$2.000 per ton di Eropa dan US$3.000 di Amerika Serikat, dengan asumsi mereka dapat menemukan  penjuaal yang memiliki logam cadangan timah.

Demikian pula dengan harga timah di pasar logam Shanghai Futures Exchange (ShFE) minggu ini melonjak ke level tertinggi sejak kontrak diluncurkan pada 2015. Kenaikan harga timah SHFE sebagai pertanda jika pasar timah perlu distabilkan karena kindisinya sudah sampai di negara produsen timah terbesar di dunia.

Harapan bahwa produksi global akan bangkit kembali dari pandemi Covid-19 pada paruh kedua tahun 2021 tidak terbukti.  Pandemi telah memperburuk rantai pasokan timah.  COVID yang panjang menyebabkan beberapa negara Asia sebagai produsen timah dunia, mengambil kebijakan penguncian  seperti di Indonesia dan Malaysia, negara  produsen timah terbesar kedua dan ketiga di dunia.

Baru-baru ini,  produsen timah Rwanda, negara di Afrika mengambil kebijakan serupa akibat meningkatnya penularan Covid-19 memaksa penambangan dan pabrik beroperasi separuh dari keadaaan normal.

Malaysia Smelting Corp (MSC), tahun lalu memproduksi 22.400 ton timah, menyatakan force majeure setelah menutup operasi penambangan dan peleburannya pada awal Juni. Sebelumnya MSC  berjuang untuk memenuhi pengiriman timah ke pelanggan karena masalah perbaikan tungku di smelter.  Diperkirakan produksi timah MSC tidak akan kembali ke tingkat  produksi pra-pandemi sampai akhir tahun ini.

Indonesia, pengekspor timah terbesar di dunia, juga berjuang untuk meningkatkan produksi. Meski insentif harga yang tinggi,  ekspor timah Indonesia turun 3%  menjadi 26.900 ton pada periode Januari-Mei 2021. Catatan reuters, jumlah pengiriman timah Indonesia ini adalah paling kecil  sejak 2016.

Kebijakan pemerintah di beberapa negara untuk melanjutkan penguncian menunjukkan belum ada tanda  pemulihan dari pandemi dalam waktu dekat sehingga rantai pasokan timah ke pasar dunia tetap terhambat. (wb)



MEDSOS WOWBABEL