Kelangkaan Pasokan Timah Diperkirakan Sampai Akhir Tahun

Tim_Wow    •    Jumat, 09 Juli 2021 | 12:16 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --  China, sebagai produsen timah terbesar di dunia, mengambil langkah menjadi eksportir. Padahal puluhan tahun China tidak pernah mengekspor logam timah. Sebaliknya untuk mememuhi kebutuhan industri timah di negerinya, China mengimpor timah maupun konsentrat dati produsen di negara Asia dan Afrika.

Reuters melaporkan jika China mengekspor 3.045 ton timah olahan pada Mei,  jumlah timah keluar  tertinggi sejak 2007. Ekspor bersih kumulatif sepanjang tahun ini mencapai 4.200 ton, dibandingkan dengan impor bersih 5.800 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Timah dari China tersebar di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan pengguna fisik timah. Total Mei saja timah dari China dikirim  ke Rumania (80 ton), Turki (59 ton), Belanda (50 ton), Italia (50 ton) dan Polandia (20 ton).

Peralihan China ke eksportir telah memperketat pasar domestik yang menghadapi masalah produksi. Stok timah terdaftar di ShFE telah anjlok 63% dari tertinggi Maret 8.853 ton menjadi 3.260 ton Jumat pekan lalu.

Yunnan Tin sebagai produsen timah terbesar menghentikan salah satu  smelternya untuk pemeliharaan tahunan. Menurut International Tin Association (ITA) gangguan pasokan timah dari Yunnan Tin akan berlangsung selama 45 hari.

“Produksi perusahaan dipengaruhi oleh penjatahan listrik karena kekeringan di provinsi ini  dan  kendala pasokan bahan baku,” kata John Willboughry analis pasar ITA.

Pabrik peleburan timah di Yunnan Tin mendapat pasokan konsentrat timah dari Myanmar yang juga produksi dan pengiriman tersendat akibat pembatasan untuk mengatasi penularan virus corona

Kekurangan pekerja di lokasi penambangan dan pemrosesan membuat impor konsentrat timah China dari Myanmar berkurang lebih dari setengahnya pada Mei  dengan arus kumulatif turun 9% dalam lima bulan pertama tahun 2021.

Aliran bahan baku alternatif yang lebih kecil dari Rwanda juga terganggu karena kebijakan pemerintah agar  kegiatan bisnis mengurangi 50% tenaga kerjanya sebagai langkah memperlambat penyebaran virus Corona.

“Bahwa harapan sebelumnya pasokan timah akan normal selama paruh kedua tahun ini terlihat menjadi angan-angan,” ujarnya.

ITA memperkirakan defisit pasokan global sebesar 10.200 ton tahun ini karena produksi tidak bisa mengimbangi permintaan elektronik rumah tangga. 

Asosiasi memperkirakan defisit berkelanjutan di tahun-tahun mendatang karena penggunaan timah mendapat dorongan dari penggunaan dalam teknologi transisi energi hijau dan internet yang meningkat.

Saat ini pasar timah  mengalami kelangkaan, situasi yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian dalam  jangka pendek. (wb)



MEDSOS WOWBABEL