Dalam Hitungan Jam, Angka Kematian Covid-19 di Babar Menanjak

Chairul Aprizal    •    Senin, 19 Juli 2021 | 22:44 WIB
Lokal
Pemakaman pasien Covid-19 di TPU Kebon Nanas Muntok, Bangka Barat.(ist)
Pemakaman pasien Covid-19 di TPU Kebon Nanas Muntok, Bangka Barat.(ist)

MUNTOK,www.wowbabel.com -- Warga Kabupaten Bangka Barat kini digeluti kegelisahan yang luar biasa lantaran petugas pemakaman jenazah Covid-19 tiada hentinya menguburkan jenazah Covid-19 tidak hitungan hari lagi tetapi jam.

Sampai malam hari inipun, Senin (19/07/2021), petugas pemakaman kembali menguburkan jenazah Covid-19 di TPU Keramat, padahal sejak pagi tadi pun baru saja melakukan pemakaman di TPU Kebon Nanas, Muntok.

Ketua Satgas Covid-19 Bangka Barat, Sidarta Gautama akui kondisi Bangka Barat saat ini mencekam karena setiap harinya dalam kurun waktu lima hari terakhir saja rata-rata sehari ada dua korban berjatuhan.

"Iya jadi sekarang penyebaran Covid-19
ini kepada masyarakat ini selalu berikut dengan gejala kalau dulu fase-fase yang lalu kan tidak semua yang terkonfirmasi itu bergejala," ungkap Sidarta.

Salah satu penyebabnya, yang sekarang terkonfirmasi positif dan diisolasi mandiri rata-rata memiliki gejala atau penyakit penyerta yang berisiko tinggi.

"Oleh karena itu saat ini Satgas kita sedang berupaya untuk mempersiapkan rumah karantina kita dan rumah sakit kita karena dengan banyaknya kasus terkonfirmasi positif berikut dengan gejala dan keluhan otomatis butuh perawatan bukan hanya sekedar dikarantina," terangnya.

Dalam waktu dekat Sidarta menuturkan wisma karantina sudah diupgrade dari 18 kamar jadi 44 kamar untuk menampung 88 orang, dan RSUD Sejiran Setason mempersiapkan ruang rawat isolasi untuk pasien Covid-19.

"Saya tidak ingin nanti faktor kematian itu salah satu penyebabnya karena terlambatnya kita dalam melakukan penanganan isolasi ini," tutur Sidarta.

Sidarta ungkapkan jika dihitung korban Covid-19 dalam 5 hari terakhir, satu hari minimal 2 orang meninggal karena terkonfirmasi positif di Bangka Barat.

"Ada beberapa malam yang lalu, ada yang dua dalam satu malam, kemudian dilanjutkan besok paginya dua lagi artinya kondisinya memang memprihatinkan kita juga jangan lupa bukan hanya Muntok, di kecamatan lain juga sama," terang Sidarta.

Sidarta nanti akan meminta setiap wilayah kerja puskesmas menyiapkan pelayanan penanganan darurat karena akan memakan waktu terlalu lama kepada pasien jika harus dipaksa rujuk ke Muntok.

"Karena saya sudah mengalami sendiri bagaimana tidak enaknya kena Covid ini dan memang bagaimana harus cepatnya penanganan pasien Covid ini" ujarnya.

Sidarta menyebutkan bahwa pasien covid-19 yang punya penyakit penyerta dan beresiko tinggi akan menjadi perhatian khusus kali ini dalam penanganannya karena melihat kasus kematian rata-rata ada pada yang penyakit penyerta.

"Jadi kalau sarana prasarananya sudah siap rumah sakitnya sudah siap maunya saya sebetulnya yang didiagnosa memiliki komorbid komplikasi itu tidak boleh diisolasi di rumah, ini kenapa masih kita lakukan karena kesiapan rumah sakit yang belum gitu siap," ungkap Sidarta.

Sidarta mengatakan selama ini terpaksa para pasien Covid-19 memiliki resiko tinggi diisolasi mandiri di rumah meskipun tetap dibawah pengawasan pihak medis bentuknya rawat jalan dari puskesmas masing-masing.

"Akhir-akhir ini memang hampir semua yang telah dinyatakan positif berdasarkan swab antigen saja itu benar-benar yang bergejala itu," tukas Sidarta.(rul/wb) 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL