Pengolahan Limbah B3 Medis Covid-19 Dibangun di KI Sadai

Abeng    •    Kamis, 29 Juli 2021 | 18:41 WIB
Nasional
Ilustrasi limbah Covid-19.(net)
Ilustrasi limbah Covid-19.(net)

PANGKALPINANG,www. wowbabel.com – Pemerintah membangun pengolahan lombah bahan beracun dan berbahaya (B3) medis Covid-19 di Provinsi Bangka Belitung. Saat ini pembangunan pengolahan limbah B3 dibangun di Kawasan Industri (KI) Sadai, Kabupaten Bangka Selatan dalam persiapan kontruksi. Ditargetkan Nopember 2021 selesai dibangun.

Pembagunan pengolahan limbah B3 medis Covid-19 langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuatnan (LHK) dengan dana bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebesar Rp 7.597 miliar.

“Untuk limbah B3 Covid-19 di Bangka Belitung dibangun di Kawasan Industri Sadai Kabupaten Bangka Selatan, pihak kontraktor sedang dalam persiapan kontruksi. Tahun ini selesai dibangun dan secepatnya beroperasi,” kata Erzaldi Rosman, Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Kamis (29/7/2021).

Penegasan Gubernur Bangka Belitung ini menangapi surat Menteri LHK Siti Nurbaya yang meminta daerah memperhatikan limbah B3 medis Covid-19. 

Kementerian LHK melarang limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) medis  Covid-19 dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di daerah. Harus ada tempat pengelolaan khusus B3 medis. Jika kedapatan maka akan mendapat sanksi.

"Oleh karena itu, kami minta pemerintah daerah untuk berhati-hati dan menaati soal ini," kata Menteri Siti Nurbaya dalam keterangan pers secara virtual, Rabu (28/6/2021).

Kementerian LHK menjabarkan bahwa limbah medis Covid-19 hingga tanggal 27 Juli 2021 mencapai total 18.460 ton, yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit darurat, wisma tempat isolasi dan karantina mandiri, uji deteksi, maupun vaksinasi.

Limbah medis tersebut terdiri atas infus bekas, masker, vial vaksin, jarum suntik, face shield, perban, hazmat, APD, pakaian medis, sarung tangan, alat PCR Antigen, hingga alkohol pembersih swab.

"Harapannya, pemerintah daerah jangan lengah soal limbah medis ini. Ikuti perkembangan di lapangannya, sarana-sarananya," ujar Menteri LHK.

Berdasarkan data yang masuk, Menteri LHK menjabarkan bahwa limbah medis Covid-19 hingga tanggal 27 Juli 2021 mencapai total 18.460 ton, yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit darurat, wisma tempat isolasi dan karantina mandiri, uji deteksi, maupun vaksinasi. Limbah medis tersebut terdiri atas infus bekas, masker, vial vaksin, jarum suntik, face shield, perban, hazmat, APD, pakaian medis, sarung tangan, alat PCR Antigen, hingga alkohol pembersih swab.

Menurut Menteri LHK, data jumlah limbah tersebut belum menggambarkan jumlah limbah medis B3 yang sesungguhnya. Perkiraan asosiasi rumah sakit, limbah medis mencapai 383 ton per hari. Adapun kapasitas fasilitas pengolah limbah B3 medis itu sebesar 493 ton per hari. Meskipun di atas kertas mencukupi, tetapi sebaran tempat pengolah limbah tersebut terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Saat ini pengelohan limbah B3 untuk wilayah Sumatera baru ada di Batam. Tahun ini Kemen LHK juga akan membangun pengolahan limbah B3 di Papua Barat, NTT, Sulbar, Babel dan Maluku.(*)




MEDSOS WOWBABEL