Untuk Swasembada Daging Sapi, Babel Harus Lumpat

ADVERTORIAL    •    Kamis, 29 Juli 2021 | 13:37 WIB
Lokal
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com – Pemprov Bangka Belitung  melalui program Lumbung Pangan Asal Ternak (LUMPAT) berambisi mewujudkan kemandirian pangan asal ternak di wilayah Sumatera pada tahun 2025.

Program LUMPAT bertujuan meningkatkan perekonomian daerah melalui peningkatan kesejahteraan petani sehingga menambah pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung , Juaidi memaparkan jika populasi sapi potong di Bangka Belitung mengalami kenaikan setiap tahunnya. Terhitung sejak tahun 2017, populasi sapi potong berjumlah 12.644 ekor dan pada tahun 2020 mengalami kenaikan hingga 15.742 ekor.
Kinerja makro sektor peternakan di Babel tumbuh positif. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor peternakan Babel tahun 2019 meningkat 2,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Fakta-fakta tersebut membuat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman perlu berkomunikasi dengan para Kelompok Tani Ternak se-Babel untuk mengedukasi agar program tersebut dapat terealisasi dalam Rapat Koordinasi penggemukan sapi melalui sistem Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara virtual, Kamis (29/7/2021).

Gubernur menjabarkan sejumlah strategi untuk meraih capaian Babel Lumpat 2025, diantaranya berencana mengimpor sapi langsung dari luar negeri, yakni Australia. Setelah sampai, hewan ternak tersebut akan dikarantina dan kemudian disuplai kepada para Kelompok Ternak untuk proses penggemukan.

Berkenaan dengan pakan, Pemprov Babel kedepan akan membuka kluster kopi seluas 1.000 hektar pada empat lokasi yang berbeda. Disamping pengembangan budidaya kopi, juga untuk mewujudkan kemandirian pangan ternak di Babel.

"Limbah kulit kopi mempunyai potensi yang cukup besar untuk dijadikan alternatif pakan ternak yang bisa meningkatkan produktifitas ternak sapi," jelasnya.

Dan juga saya minta kepada pihak perbankan untuk memikirkan insentif bagi para penyuluh. Karena menurut gubernur bahwa peran penyuluh tidak hanya menyampaikan informasi kepada petani ternak tetapi juga harus mampu menambah, mengubah, dan membangun aspek-aspek pengetahuan, maupun keterampilan petani ternak sehingga mereka mampu bertani dan berusaha lebih baik serta menguntungkan.

Adapun terkait sejumlah keluhan peternak berupa proses pelunasan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebelum waktunya, Gubenur minta pihak perbankan dapat mengevaluasi kembali, semisal menjelaskan perjanjian kontrak secara rinci sebelum ditandatangani peternak.

"Mungkin durasi angsuran kontrak dikarena kekhawatiran para peternak, sapinya tidak laku dijual saat Idul Adha kemarin, namun buktinya sapi binaan KUR habis semua dibeli masyarakat," bebernya.

Melihat keberhasilan ternak sapi yang laku saat Idul Adha tahun ini, Gubernur berharap kepada para peternak harus saling berkoordinasi dengan Kelompok Ternak dan offtaker dimana waktu yang tepat untuk menjual dan membeli, sehingga antar kelompok tidak panennya bersamaan, yang menyebabkan harga ternak menurun karena lebih banyak ternak dibanding permintaan.

Terakhir, Gubernur meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Babel untuk mengevaluasi apa yang kurang dari program KUR penggemukan sapi tahap I dan II, sehingga pada periode III akan lebih baik lagi.

"Tujuan kami ingin peternak sapi kita lebih sejahtera dan Insya Allah untung berlimpah," pungkasnya. (adv)



MEDSOS WOWBABEL