Kematian Pasien Covid Mengkhawatirkan, Daerah Tak Jalankan PPKM Level 4

Tim_Wow    •    Jumat, 30 Juli 2021 | 08:23 WIB
Nasional
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito.(net)
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito.(net)

JAKARTA, wowbabel.com -- Angka kematian pasien COVID-19 dalam 2 minggu terakhir cukup mengkhawatirkan meski dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang dilanjutkan PPKM Level 1 - 4. 

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyayangkan bulan Juli menjadi yang tertinggi sejak awal pandemi. Tercatat sudah mencapai 30.168 kematian (per 28 Juli 2021) dengan rata-rata melebihi 1000 kasus per hari dan tertinggi terjadi pada 27 Juli 2021 sebanyak 2.069 kasus per hari. Angka bulan Juli ini meningkat drastis dibandingkan bulan Juni 2021 sebesar 7.913 kematian. 

Ada 10 provinsi dengan kenaikan angka tertinggi minggu ini. Diantaranya, Jawa Tengah (naik 825), Jawa Timur (naik 586), DKI Jakarta (naik 510), Kalimantan Timur (naik 189), DI Yogyakarta (naik 136), Riau (naik 136), Bali (naik 53), Sulawesi Selatan (naik 48), Kalimantan Selatan (naik 44) dan Sumatera Selatan (naik 43). 

"Hal ini seharusnya menjadi alarm, bagi pemerintah daerah karena sebagian besar kabupaten/kota di provinsi tidak menjalankan PPKM Level 4," kata Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Kamis (29/7/2021). 

Dari 10 besar provinsi tersebut, ada 5 diantaranya berasal dari luar Pulau Jawa-Bali. Meskipun Jawa Tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta masih menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian, namun perlu  diwaspadai untuk Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan turut menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian mingguan.

Wiku menekankan  pemerintah daerah  segera mengevaluasi upaya penanganan di wilayahnya masing-masing.  Mengingat, angka kematian masih terus meningkat. Pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah-langkah strategis dalam menekan laju penularan dan mencegah terjadinya kematian pasien COVID-19. 

"Hal ini dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan peningkatan penanganan sehingga kasus kematian pasien dapat dihindari," pungkas Wiku. (*)



MEDSOS WOWBABEL