PT Timah Kesulitan Teknologi untuk Kelola Logam Tanah Jarang

Tim_Wow    •    Senin, 23 Agustus 2021 | 09:56 WIB
Ekonomi
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --  Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk Alwin Albar mengakui jika pihaknya masih kesulitan dalam mengembangkan mineral ikutan timah menjadi logam tanah jarang/rare earth (LTJ). Selain kesuliatan informasi, teknologi pengolahannya pun dikuasai oleh Cina.

Demikian dikataian Alwin saat  Round Table Discussion Hilirisasi Mineral dan LTJ untuk Pertumbuhan Ekonomi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Nasional (LKN) RI secara virtual, Kamis (19/8/2021) pekan lalu. 

“Dalam hal pengumpul sebagai korporasi, PT Timah tetap mempertimbangkan keekonomian dan kami siap membangun hilirisasi jika ada teknologi yang proven kapasitas feed 1000 ton/tahun," ungkapnya.

Alwin mengakui jika pihaknya kesulitan informasi teknologi komersil pengolahan monasit untuk menghasilkan LTJ sangat terbatas dan dikuasai China. Sedangkan PT Timah kesulitan dalam memperoleh teknologi pengolahan monasit secara komersial. 

“Untuk itu, perlu dukungan pemerintah untuk memperoleh teknologi hilirisasi selanjutnya," ungkapnya. 

Menanggapi hal tersebut,  Staf Khusus Menteri ESDM, Irwandy Arif mengatakan saat ini LTJ asal Bangka Belitung menjadi prioritas. Karenanya, pihaknya akan terus mendorong percepatan aturan terkait LTJ.

“Perlu diketahui bahwa dalam percepatan pembentukan aturan tersebut ada hal yang tidak bisa ditawar yakni masalah lingkungan, untuk itu perlu sinergitas semua pihak, baik itu Kementerian KLHK serta pihak terkait lainnya, “ kata Irwandi.

Pemanfaatan LTJ ini, kata Irwandy  menjadi pekerjaan rumah karena ada beberapa hal yang harus dilakukan secara beriring, yakni peningkatan sumber daya manusia dan teknologi terapan hilirisasi mineral yang mumpuni. 

Beberapa waktu yang lalu saat wawancara dengan CNBC Indonesia, Irwandi Stafsus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba, menyebutkan bahwa target pemerintah terhadap investasi sektor tambang mencapai USD 6 Miliar di 2021. Sehingga untuk menggenjot investasi ini diperlukan daya tarik yang mampu menarik minat investor diantaranya potensi nikel dan kobalt, komoditas tanah jarang di Bangka Belitung hingga pengembangan investasi sektor mineral kritis.

Sedangkan upaya untuk mengolah mineral ikutan dari kegiatan penambagan timah di Bangka Belitung menjadi LTJ pernah dilakukan oleh PT Timah. Uji coba dengan membangun proyek percontohan pengolahan monasit menjadi rare earth hydroxide (REOH) di Tanjung Ular, Bangka Barat sudah dilkaukan sejak 2015. Timah lakukan dengan membandingkan teknologi yang dikembangkan di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Batan.

Proyek percontohan tersebut akan dikembangkan sebagai pendamping rencana komersial dan menjadi acuan untuk pabrik komersial skala industri. Bersama induk usahanya, PT Indonesia Asahan Aluminium atau MIND ID, terus melakukan upaya percepatan pengembangan rare earth ini.

Teknologi yang digunakan dalam pengolahan logam tanah jarang sangat tertutup karena nilainya strategis secara geopolitik. Karena itu, fokus Timah adalah memilih teknologi dan penyedianya (provider).

Pemilihan teknologi itu menyangkut parameter ramah lingkungan, imbal hasil produk antara atau intermediate hingga hilir, keandalan produk yang terbukti, dan harus bankable. Kemitraan dengan perusahaan lain juga tak sebatas teknologi tapi juga sebagai offtaker produknya.  (wb)



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL