Impor Timah Indonesia ke Cina Didorong Harga di SHFE

Tim_Wow    •    Rabu, 01 September 2021 | 15:39 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --  Asosiasi Timah Internasional (ITA) memperkirakan  impor timah ke Cina lebih tinggi pada Agustus 2021. Meskipun pabrik peleburan timah Yunan Tin Company (YTC) sudah beroperasi  normal lagi.

Harga logam timah di pasar Shanghai Futures Exchange (SHFE) yang relatif menguat dari London Metal Exchange (LME) mendorong produsen timah mengirimkan barang ke Cina. Terutama produsen timah terbesar kedua dunia dari Indonesia.

"Dengan harga SHFE sekarang jauh lebih kuat daripada LME, arbitrase dapat  mendorong impor ke China. Hal ini menyebabkan lebih banyak produksi di Indonesia, salah satu sumber timah lepas pantai utama bagi China," kata analis ITA dalam keterangan tertulisnya di internationaltin.org , Rabu (1/9/2021).

Kebutuhan logam timah di Cina akan tetap tinggi meskipun pasar Cina diperkirakan akan melemah selama Agustus. Asosiasi melihat ada beberapa indikator yang membuat pasokan timah ke Cina tetap ketat walau produsen utama YTC sudah kembali beroperasi pada kapasitas penuh, namun stok SHFE berkurang setengahnya antara akhir Juli dan 20 Agustus.

"Selain permintaan yang  kuat untuk persediaan logam ini, SHFE tidak mengalami penurunan harga yang begitu tajam seperti yang dialami LME. Harga  LME turun sekitar 9% (US$ 3.200/ton) pada tanggal 19 Agustus karena penasihat perdagangan komoditas (CTA) dan dana yang masuk pada  posisi membeli. Relatif, kontrak SHFE  turun hanya 4%," ujar analis ITA.

Pasar timah di luar Cina  mengalami kenaikan harga yang cepat  akibat  pasokan yang teresendat. Produsen utama MSC beroperasi masih di bawah kapasitas, sebagai bagian dari uoaya pengendalian virus corona di Malaysia. Harga timah di LME mencapai US$ 35.965/ton pada akhir Juli, naik US$ 3.175/ton dibandingkan awal bulan sekaligus rekor harga tertinggi sepanjang masa. (wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE