Penghujung Bulan Kemerdekaan, Bangka Belitung Nyaring Bicara Adab

Robby_Salim    •    Rabu, 01 September 2021 | 18:58 WIB
Opini
Ilustrasi.(net)
Ilustrasi.(net)
Oleh: Robby Sahputra Salim


INSIDEN viral aktivis mahasiswa Bangka Belitung membuat semua sontak bicara adab, tidak sebatas itu, komentar pedas dan bullying kepada mahasiswa pun bertubi. Sadarkah bullying mereka di sosial media juga bagian tercelanya adab? 

Jenks menjelaskan bahwa dalam masyarakat Barat, kemampuan untuk melihat atau kemampuan visual ternyata dipahami secara mendua. Pada satu sisi, kemampuan visual dijagokan sebagai indera yang paling tajam dalam menggambarkan “dunia eksternal” sehingga diperlakukan sebagai sesuatu yang otonom, bebas, bahkan murni. 

Namun, pada sisi yang lain, simbol-simbol visual justru dianggap sebagai sesuatu yang bersifat “duniawi” dan tidak dapat diinterpretasi secara pasti. 

Hal ini, membuktikan betapa berkembangnya kemampuan mata menjadikan mata sebagai alat utama bagi manusia untuk mengetahui “dunia eksternal” yang ada di sekitarnya. Kita membuka mata kita, melihat ke arah yang kita inginkan, maka kita 

akan mendapatkan berbagai informasi visual tentang dunia eksternal itu sebagai 

sensasi visual yang kemudian akan kita terjemahkan melalui persepsi kita (Racine). Tapi, hanya sejauh itukah peran mata bagi kehidupan kita? Cukupkah melihat dari yang tampak? 

Kali ini, gerakan aktivis mahasiswa Bangka Belitung yang memperjuangkan gagasan terbentur dengan adab yang dinilai tidak pantas, namun apakah ada yang sadar bahwa perjuangan aktivis ini melawan tidak beradabnya wakil rakyat menaikkan tunjangan di masa pandemi yang belum usai? 

Meskipun, sebagian masyarakat tidak mengetahui apa yang mereka perjuangkan. Mereka tetap melanjutkan perjuangan dengan hadir bersama rektornya untuk meminta maaf atas kesalahan mereka. Ini adab yang lebih mulia, sadar dengan kesalahan dan meminta maaf atas keteledorannya. Namun bagaimana dengan wakil rakyat? Adakah meminta maaf telah menaikkan tunjangan? Ugal - ugalan dalam mengelola anggaran di masa pandemi. 

Insiden adab mahasiswa pun dinikmati menjadi panggung paling beradab, saling hujat dengan mengabaikan adab. Gerakan mahasiswa tidak boleh terhenti karena adab, ini menjadi pendewasaan gerakan agar lebih menghasilkan dampak yang bermakna untuk masyarakat, tidak seperti wakil rakyat, hanya untuk golongannya saja.

Sejatinya wakil rakyat dipilih untuk mewakili suara rakyat yang tentunya bermuara pada kesejahteraan rakyat. Namun faktanya, rakyat yang diwakili malah sengsara, jauh dari sejahtera. Justru para wakil rakyat yang boleh diduga memperkaya diri, dengan menikmati tunjangan puluhan juta rupiah dan baju baru. 

Di tengah pandemi dengan kondisi rakyat yang serba susah, tentunya apa yang dilakukan wakil rakyat telah mencederai rasa keadilan.(*) 




MEDSOS WOWBABEL