Penurunan Komoditas Makanan Sebabkan Babel Deflasi

Firman    •    Jumat, 03 September 2021 | 09:44 WIB
Ekonomi
Caption: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Babel, Tantan Heroika. (dok/wb)
Caption: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Babel, Tantan Heroika. (dok/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com --Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Agustus 2021 mengalami deflasi 0,07% (mtm) atau inflasi 2,86% (yoy). Deflasi yang rendah  didorong oleh menurunnya beberapa komoditas bahan makanan seperti daging ayam ras dan beberapa jenis ikan (udang, cumi-cumi, dan ikan kerisi). 

"Hal ini tercermin dari penurunan indeks harga kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,37% (mtm) dengan andil deflasi sebesar 0,128%," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Babel, Tantan Heroika dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/9/2021).

Selain daging ayam dan beberapa jenis ikan, kata Tantan, deflasi pada kelompok tersebut juga disumbang oleh cabai merah dan cabai rawit. Namun demikian deflasi kelompok ini tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami peningkatan indeks harga seperti ikan selar, ikan bulat, ikan ekor kuning, ikan tongkol, minyak goring dan ikan singkur yang memberikan andil inflasi cukup besar. 

Secara spasial, Kota Pangkalpinang mengalami deflasi sebesar 0,27% (mtm) terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau berupa ikan selar, ikan bulat, rokok kretek filter, minyak goreng, dan ikan singkur. Berbeda dengan kota Pangkalpinang, Kota Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 0,28% (mtm). 

Inflasi di kota Tanjungpandan utamanya juga disumbang oleh komoditas ikan seperti ikan ekor kuning, ikan tongkol, ikan kerisi, cumi- cumi dan ikan kembung. Sesuai musimnya, pada Agustus 2021, kelompok pendidikan memberikan andil inflasi di kedua kota sampel IHK. Komoditas dalam kelompok pendidikan yang paling besar memberikan andil inflasi adalah sekolah dasar dengan andil terhadap inflasi bulanan Bangka Belitung sebesar 0,010%.

Tantan juga mengingatkan dilihat dari perkembangan cuaca, Indeks ENSO BMKG saat ini berada dalam rentang zona normal, atau menunjukkan tidak terjadinya fenomena El Nino maupun La Nina. Namun demikian, indeks yang terus mengalami penurunan dari prakiraan awal mengindikasikan menguatnya prakiraan tekanan La Nina ke depan. Meskipun berada dalam periode musim kemarau, Bangka Belitung terpantau mengalami cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi.

"Lebih lanjut, gangguan cuaca juga berdampak pada tingginya gelombang air laut. Selain dapat mempengaruhi kelancaran jalur distribusi, juga cukup menyulitkan nelayan dalam melakukan aktivitas melaut sehingga tekanan inflasi komoditas ikan segar masih cukup kuat," ujarnya. (fn/wb)



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL