Kreativitas Menulis Guru Dalam Meningkatkan Literasi Siswa

Jurnalis_Warga    •    Senin, 06 September 2021 | 15:32 WIB
Opini
Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba).(ist)
Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba).(ist)


Oleh : Yudi Sapriyanto SPd (Kepala SMA Negeri 1 Simpang Rimba)


“Karena tulisan ilmu dapat diikat dan diingat. Tulisan dapat menyampaikan kondisi terkini. Tulisan dapat mengingatkan kita pada masa lampau. Dalam hal memprediksi masa depan pun kita dapat membaca dari sebuah tulisan. Siapapunperlu untuk menulis, karena literasi kita ditentukan dari sebuah tulisan.”


Pagi ini salah satu ibu guru memberi kabar perihal minta diizinkan untuk tidak masuk dikarenakan penyakit hipertensinya kambuh. Pada saat yang sama, kegiatan pelatihan yang sekarang ini dilaksanakan banyak berbasis platform aplikasi whatsapp dan telegram, serta kecendrungan kita sering menulis status baik melalui aplikasi whatsapp dan facebook. Dengan kecendrungan komunikasi berbasis android sangat membantu sekali kita menjalankan aktivitas sehari-hari. Baik melakukan tugas kantor, kegiatan bermasyarakat maupun aktivitas sehari- hari. Selain komunikasi melalui voice mail, pesan berbasis tulisan menjadi tren penting akhir-akhir ini. Hal ini semakin mendorong kebiasaan menulis menjadi kebiasaan sehari-hari yang harus kita lakukan karena sudah menjadi sebuah kebutuhan.

Dalam mencapai tujuan aktivitas yang kita lakukan, kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah seharusnya semakin ditingkatkan. Wikipedia menyebutkan secara umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan inpidu dalam membaca menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari hari disebut dengan literasi. Bagian dari upaya meningkatkan upaya menyelesaikan masalah mengasah kemampuan menulis membutuhkan upaya menambah pengetahuan dan pemahaman. Menambah kosakata, merangkai kata dan kalimat.

Berbanding terbalik dengan kemajuan yang diharapkan, mengacu pada hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assesment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) tingkat literasi Indonesia sangat rendah. Hasil survey tahun 2019 minat baca masyarakat Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara atau berada 10 negara terbawah. Sementara UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Ini artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca. Literasi selain dilihat pada minat membaca juga dapat dilihat dari kemampuan menulis. Misbah Priagung Nursalim dalam artikel “Rendahnya Kemampuan Menulis Masyarakat Indonesia” menyampaikan kegiatan membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang saling berkaitan.

Sebelum menulis seseorang harus memiliki banyak referensi. Harus mengetahui dan memahami pesan yang akan disampaikan, konsep yang jelas dari abstrak menjadi nyata. Sehingga sebelum menulis harus banyak membaca. Berangkat pada kondisi lemahnya literasi kita saat ini. Seyogyanya guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dan pendidikan lebih kreatif. Penggunaan media pembelajaran menggunakan teknologi berbasis informasi (Teknologi Informasi). Dalam melakukan pembelajaran dengan melibatkan teknologi akan meningkatkan pemahaman dan tujuan pembelajaran lebih cepat. Melibatkan siswa kepada pembelajaran yang kreatif berarti pendidik dapat mengembangkan kemampuan siswanya melalui teknologi informasi. Hal ini berarti guru harus dapat memindahkan tulisannya dari media luring di kelas ke media daring di kelas maya. Guru dapat melihat dan menggunakan pengalaman belajar positif sebagai pemicu keberhasilan siswa. Guru dapat mengembangkan kreativitas tulisan dari proses pembelajaran dikelas dan pendidikan di sekolah sebagai objek tulisan yang akan bermanfaat dalam mengembangkan potensi siswanya agar keluar dan dapat dikelola sebagai modal keberhasilan peserta didiknya.



MEDSOS WOWBABEL